Akurat

ICCT Ungkap Strategi Indonesia Bebas Impor BBM: Peta Jalan Menuju Nol Emisi

Oktaviani | 12 Februari 2025, 19:55 WIB
ICCT Ungkap Strategi Indonesia Bebas Impor BBM: Peta Jalan Menuju Nol Emisi

AKURAT.CO Transisi ke kendaraan nol emisi, yang saat ini dapat dipenuhi oleh Kendaraan Bermotor Berbasis Baterai (KBLBB), berpotensi membantu Indonesia bebas dari impor bahan bakar fosil paling cepat pada tahun 2048.

Langkah ini juga dapat mengurangi hingga 90 persen subsidi dan kompensasi energi untuk transportasi darat dibandingkan dengan anggaran tahun 2023.

Hal ini terungkap dalam peluncuran laporan studi "Roadmap to Zero: The Pace of Indonesia’s Electric Vehicle Transition", yang disampaikan oleh Ray Minjares, Managing Director International Council for Clean Transportation (ICCT).

Studi ini merupakan hasil kolaborasi ICCT dengan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (sekarang Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan) serta berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintahan, badan usaha, asosiasi, dan lembaga think tank.

Rangkaian diskusi yang melibatkan berbagai pihak ini berlangsung pada Agustus–Oktober 2024.

Baca Juga: Menteri ESDM Bakal Tata Ulang Distribusi Solar Subsidi, Golkar Jamin untuk Kepentingan Rakyat

Dalam forum strategis "Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik", yang digelar di Aryanusa Ballroom, Jakarta, Rabu (12/2/2025), Ray memaparkan, Indonesia dapat menghilangkan beban fiskal yang setara dengan 10 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2060 jika menargetkan 100 persen penjualan kendaraan nol emisi pada 2037 untuk kendaraan roda dua dan tiga, serta 2040 untuk mobil penumpang, bus, truk ringan, truk sedang, dan truk berat.

Dalam laporan tersebut, ICCT merekomendasikan empat langkah strategis bagi pemerintah untuk mempercepat transisi kendaraan nol emisi:

1. Menetapkan target pangsa pasar kendaraan nol emisi, guna memberikan kepastian kepada pelaku industri dan konsumen.

2. Memberikan dukungan fiskal, seperti insentif dan subsidi, untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di semua segmen.

3. Membuat standar suplai kendaraan nol emisi, agar produksi dan adopsinya dapat berjalan lebih optimal.

4. Mengembangkan infrastruktur pengisian daya, yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di berbagai daerah.

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Rachmat Kaimuddin, menegaskan, percepatan ekosistem kendaraan nol emisi akan mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.

Baca Juga: Cara Download Lagu TikTok Format MP3 dari Video Kualitas HD Lewat Situs Aman dan Gratis!

"Saat ini, Indonesia mengimpor 60 persen bahan bakar fosil, dengan anggaran subsidi rata-rata Rp250 triliun per tahun dalam lima tahun terakhir. Ketergantungan ini tidak hanya membebani fiskal, tetapi juga menjadi penyebab 40–60 persen polusi udara di perkotaan," jelas Rachmat.

Menurutnya, ketika ekosistem kendaraan listrik telah terbangun, ketergantungan pada impor bahan bakar fosil akan berkurang karena listriknya berasal dari sumber domestik, baik fosil maupun energi terbarukan.

Dalam diskusi panel yang digelar dalam forum tersebut, Direktur Operasional Transjakarta, Daud Joseph, mengungkapkan bahwa biaya operasional bus listrik lebih hemat 20 persen dibandingkan bus konvensional.

"Dengan pengoperasian bus listrik, subsidi angkutan umum yang awalnya Rp4,3 triliun dapat ditekan menjadi Rp4,1 triliun per tahun. Setiap bulan, Transjakarta menghemat Rp8 miliar, yang bisa digunakan untuk mengoperasikan 60 bus tambahan," ujar Daud.

Saat ini, Transjakarta telah mengoperasikan 300 unit bus listrik, termasuk 200 bus baru yang dipesan pada akhir 2024.

Dengan meningkatnya permintaan kendaraan listrik berbasis baterai, kebutuhan mineral kritis seperti nikel dan kobalt juga akan meningkat.

Peneliti ICCT, Tenny Kristiana, menyoroti pentingnya teknologi daur ulang baterai sebagai solusi untuk mengurangi eksploitasi sumber daya alam.

"Di Eropa dan Tiongkok, publikasi komposisi bahan baterai telah mempermudah proses daur ulang. Dengan mengetahui jumlah kandungan nikel dan kobalt dalam baterai bekas, kita bisa mengolahnya kembali dengan lebih efisien," kata Tenny.

Baca Juga: Kritik Keras, Mulyo Handoyo Sebut Chico Aura Dwi Wardoyo seperti Pemain tak Berpengalaman

Sementara itu, Harris, Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menambahkan, sebelum didaur ulang, baterai kendaraan listrik dapat dimanfaatkan sebagai penyimpanan energi untuk mendukung peningkatan pemanfaatan energi terbarukan, terutama di luar Pulau Jawa.

“Stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) juga mulai mengintegrasikan listrik dari energi terbarukan, seperti panel surya,” tambah Harris.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, transisi kendaraan listrik di Indonesia diharapkan dapat berjalan lebih cepat, sekaligus mendorong kemandirian energi dan keberlanjutan lingkungan di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.