Akurat

Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang, Pakar Soroti Penyebab dan Pentingnya Penegakan Hukum

Herry Supriyatna | 12 November 2024, 23:52 WIB
Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang, Pakar Soroti Penyebab dan Pentingnya Penegakan Hukum

AKURAT.CO Kecelakaan beruntun yang melibatkan 19 kendaraan terjadi di Jalan Tol Cipularang KM 92, Kabupaten Purwakarta, pada Senin (11/11/2024) sore.

Kejadian ini menyebabkan banyak korban, yang diduga kuat akibat kegagalan pengereman pada truk pengangkut beban berat yang tidak layak jalan.

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), Kakor menyatakan bahwa sopir truk diduga menggunakan gigi tinggi, atau gigi empat, saat melewati jalan menurun, yang memperparah kegagalan pengereman.

Pakar keselamatan berkendara, Fitra Eri, menjelaskan, beberapa faktor bisa menyebabkan truk mengalami rem blong, salah satunya adalah muatan yang terlalu berat.

Baca Juga: Kampanye Akbar Ridwan Kamil-Suswono Bertema ‘Satuin Jakarta’ Akan Digelar di Jakarta Barat

Sistem pengereman truk memiliki batas maksimal, dan jika membawa muatan berlebih atau over dimensi, efektivitas pengereman akan sangat berkurang.

"Jalan menurun yang panjang bisa memperparah masalah ini, terutama jika sopir tidak menggunakan gigi rendah dan harus terus menginjak rem. Akibatnya, rem menjadi panas dan kehilangan efektivitas ketika mencapai titik tertentu," jelas Eri dalam sebuah dialog di televisi swasta, Selasa (12/11/2024).

Selain muatan berlebih, kondisi kelayakan truk juga memengaruhi keselamatan berkendara. Banyak truk yang tidak memenuhi standar teknis, terutama pada sistem pengereman.

Ditambah lagi, hujan deras saat kejadian turut mengurangi efektivitas pengereman dan kontrol kendaraan.

Eri menegaskan perlunya penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan apakah penyebab utamanya adalah rem blong atau kelalaian pengemudi.

Baca Juga: Dua Orang Ditangkap Terkait Kasus Perdagangan Anak di Bawah Umur, Korban Dijadikan LC di Kafe Jaksel

"Kecelakaan di jalan sering kali disebabkan oleh human error, tetapi banyak pelanggaran yang dibiarkan, terutama pada kendaraan berat. Penegakan hukum yang tegas diperlukan agar kejadian seperti ini tidak berulang," ujarnya.

Eri juga menyoroti pelanggaran lain, seperti truk yang melanggar batas kecepatan dan berkendara di jalur tengah atau kanan, padahal seharusnya truk tetap di jalur kiri. Hal ini sering terjadi tanpa ada tindakan tegas dari pihak berwenang.

Masalah teknis terkait kelayakan kendaraan juga sering diabaikan. Pemeriksaan kendaraan (KIR) seharusnya menjamin kelayakan truk beroperasi, namun banyak truk bermasalah yang tetap dibiarkan beroperasi di jalan raya.

"Sistem pengawasan harus diperbaiki segera. Jika tidak, kita akan terus melihat kecelakaan fatal. Pemerintah harus bertindak tegas, memperbaiki sistem dari akar, dan memastikan bahwa regulasi keselamatan jalan benar-benar dijalankan," tegas Eri.

Ia juga menyoroti peran penting truk dalam perekonomian Indonesia, namun menekankan bahwa keselamatan tetap harus menjadi prioritas.

Tanpa pengawasan ketat terhadap truk di jalan raya, risiko kecelakaan akan semakin tinggi.

"Jika ingin menghindari kejadian seperti ini, pemerintah harus turun tangan, membuat regulasi yang ketat, menjalankan aturan tanpa kompromi, dan mengambil tindakan tegas terhadap pejabat yang membiarkan praktik berbahaya ini. Truk memang penting bagi perekonomian, tapi keselamatan harus tetap dijaga," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.