Akurat

Sekolah Damai Upaya Ciptakan Lingkungan Pendidikan Bersih dari Intoleransi dan Kekerasan

Mukodah | 20 Juni 2024, 09:32 WIB
Sekolah Damai Upaya Ciptakan Lingkungan Pendidikan Bersih dari Intoleransi dan Kekerasan

AKURAT.CO Dunia pendidikan masih menghadapi tantangan besar dalam tiga dosa besarnya, yakni intoleransi, kekerasan dan bullying.

Untuk itu, butuh kerja bersama untuk menumbuhkan ketahanan peserta dalam menghadapi tantangan tersebut, agar lingkungan pendidikan menjadi kondusif.

Program Sekolah Damai yang dihelat Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi salah satu upaya untuk menciptakan lingkungan pendidikan bersih dari intoleransi, kekerasan dan bullying.

"Kita berkumpul di sini antara BNPT bersama guru pendidik Se-Bandung Raya untuk merapatkan barisan dan menyamakan visi misi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, yaitu terwujudnya pendidikan maju di Jawa Barat. Guna membentuk SDM yang berkarakter, cerdas, mandiri, menguasai Iptek dan berbasis budaya Jawa Barat," jelas Direktur Pencegahan BNPT, Prof. Dr. Irfan Idris, pada kegiatan Pelatihan Guru dalam Rangka Menumbuhkan Ketahanan Satuan Pendidikan dalam Menolak Paham Intoleransi, Kekerasan dan Bullying di SMKN 3 Bandung, yang digelar Rabu (19/6/2024).

Baca Juga: Fasilitas Jemaah Haji Amburadul, Sekjen PKS Minta Kemenag Berbenah

Ia mengungkapkan bahwa tantangan dunia pendidikan saat ini sangat tinggi.

Bagaimana menumbuhkan ketahanan pada anak adalah suatu hal yang penting dipikirkan.

Menurut Prof Irfan, memperkuat ketahanan pada peserta didik merupakan hal yang penting dalam memastikan bahwa mereka dapat berhasil menghadapi beragam tekanan dan kejadian yang mungkin terjadi selama proses belajar.

Oleh sebab itu, Sekolah Damai, yang digagas BNPT lewat Subdit Kontra Propaganda, adalah salah satu program yang mengoordinasikan institusi pendidikan untuk melawan radikalisme dan intoleransi di sekolah.

Ia mengatakan bahwa Sekolah Damai merupakan bagian dari tujuh program prioritas yang dicanangkan Kepala BNPT, Komjen Prof. Mohammed Ryco Amezla Dahniel.

Sekolah Damai memiliki empat elemen untuk membentuk ketahanan dalam lingkungan pendidikan.

"Pertama adalah public awareness atau kesadaran bersama. Kedua adalah community engagement atau keterikatan sosial, bagaimana masyarakat mempunyai rasa memiliki dan rasa solidaritas antarsesama. Ketiga yaitu community resilience atau daya tahan masyarakat dan keempat adalah national resilience atau daya tahan nasional," paparnya.

Prof Irfan mengatakan, peserta didik harus paham dengan bentuk intoleransi, kekerasan dan bullying di lingkungan sekolah.

Baca Juga: Netizen Nilai Raffi Ahmad Tidak Fokus Ibadah Haji karena Ngonten, Habib Jafar Bela Ayah Cipung

Ia juga mengingatkan untuk para guru harus selalu waspada terhadap perekrutan kelompok radikal di dunia maya.

Pasalnya, kelompok teroris dalam aksi perekrutannya menyasar generasi muda lewat media sosial.

"Kelompok radikal teroris menggunakan dua cara untuk merekrut simpatisannya, yaitu soft approach dan hard approach," tambahnya.

Saat ini, menurut Prof Irfan, target radikalisasi adalah perempuan, anak dan remaja.

Dengan pendekatan lembut, kelompok radikal teroris mengubah perempuan dan anak menjadi militan.

"Di mana posisi biasanya generasi remaja dan anak berada? Ya di sekolah. Karena itu, para guru perlu fokus menjadi pendidik di institusi pendidikan," ujarnya.

Prof Irfan mengingatkan, para guru harus mengetahui bahwa kelompok radikal teroris biasanya masuk melalui kajian-kajian ringan amar ma'ruf nahi mungkar.

"Semakin lama, mereka akan mengatakan bahwa negara ini kafir dan sebagainya. Oleh karena itu, guru juga perlu memahami propaganda-propaganda seperti kafir dan negara agama," jelasnya.

Pada tahun 2023 tidak ada serangan teror terbuka di Indonesia.

Baca Juga: NasDem Bakal Gelar Kongres III, Hadirkan Presiden Jokowi dan Prabowo

Selain sebagai sebuah capaian, realita ini menjadi alarm bahwa mereka sedang gencar menyebarkan propaganda ke generasi-generasi muda, utamanya di institusi pendidikan.

Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah pondasi utama membentuk karakter dan kepribadian pada anak dan remaja.

"Karena itu, indikator-indikator yang ada pada Sekolah Damai sangat mendorong untuk mewujudkan sikap toleran, antikekerasan dan anti-bullying," tutup Prof Irfan, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (20/6/2024).

Program Sekolah Damai di SMAN 3 Bandung merupakan kegiatan keenam yang sebelumnya sudah digelar di SMA 1 Palu, SMA 3 Serang, Ponpes Darussalam Blogagung Banyuwangi, SMA 3 Semarang dan SMA 39 Jakarta.

Kegiatan ini hasil kolaborasi antara BNPT, Duta Damai BNPT dan Dinas Pendidikan Jabar.

Baca Juga: Rayakan Kebersamaan Idul Adha, Artha Graha Peduli dan Makmur Elok Graha Berbagi Daging Kurban kepada Warga Rempang dan Galang

Turut hadir dalam kegiatan kali ini Kabid Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Dinas Pendidikan Jabar, Drs. Edy Purwanto; Kepala SMKN 3 Bandung, Drs. Agung Indaryanto; Kesbangpol Kota Bandung, narasumber lain yakni tokoh muda Muhamadiyah, Mohammad Abdullah Darraz; mitra deradikalisasasi, Kiki Muhammad Ikbal; serta Kasubdit Kontra Propaganda, Kolonel Cpl. Hendro Wicaksono, beserta staf.

Program Sekolah Damai di SMAN 3 Bandung diikuti oleh 150 guru dari SMKN 3, SMKN 4, SMKN 8, SMAN 22, SMAN 12, SMAN 8, SMAN 11, SMA Muhammadiyah 1, SMA Bina Warga, SMA Pasundan 1 dan SMA Muhammadiyah 3.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK