Akurat

Kurangi Risiko Kecelakaan, DPR Dukung Pemerintah Hapus Kegiatan Study Tour Sekolah

Siti Nur Azzura | 17 Mei 2024, 08:51 WIB
Kurangi Risiko Kecelakaan, DPR Dukung Pemerintah Hapus Kegiatan Study Tour Sekolah

AKURAT.CO Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf, mendukung jika pemerintah menghapus kegiatan study tour sekolah untuk mengurangi risiko terjadinya kecelakaan yang menelan korban.

Hal ini disampaikan Dede merespons sikap sejumlah daerah yang melarang study tour usai adanya insiden kecelakaan yang menimpa rombongan bus study tour SMK Lingga Kencana Depok di Ciater, Subang, dan menyebabkan 11 orang tewas.

"Saya sepakat dan setuju. Kalaupun saya juga adalah pemerintahan daerah, pasti saya akan mengurangi risiko. Karena kalau domainnya melarang study tour atau tidak itu nanti melalui peraturan menteri," kata Dede kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, dikutip Jumat (17/5/2024).

Baca Juga: Dinas Pendidikan DKI Jakarta Larang Sekolah Adakan Study Tour ke Luar Kota

Dede mengatakan, dalam waktu dekat DPR akan melakukan pemanggilan terhadap Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk membahas sejumlah persoalan terkini, salah satunya mengenai kegiatan study tour.

"Kita akan review apakah study tour masuk di dalam kurikulum atau tidak. Apakah bisa diganti dengan yang lainnya, yang terkait dengan kemampuan siswa nanti di dalam representasi masa depan yang lebih jauh lagi," ujarnya.

Lagi pula, politisi Partai Demokrat itu menilai kegiatan study tour sekolah banyak yang tidak memiliki kaitan dalam hal pendidikan, sebab murni sebagai kegiatan wisata. Karenanya, dia pun akan mengkaji ulang mengenai study tour ini.

Baca Juga: Pemprov Jabar Terbitkan Surat Edaran Soal Study Tour, Kesiapan Kendaraan Jadi Poin Penting

"Kalau kayak kemarin kan ya Ciater itu wisata. Enggak ada korelasinya sama study. Jadi ini semua harus kita bahas dan menurut saya untuk saat ini saya sepakat dengan pemerintah daerah melarang, daripada ada kejadian-kejadian lain," tuturnya.

Apalagi, Dede menilai banyak orang tua murid yang terbebani dengan biaya-biaya study tour yang terkesan dipaksakan.

"Kadang-kadang ada dari Jakarta study tour ke Bali. Mau ngapain? Kejauhan, biaya tinggi, dan bebankan ortu. Dan orang tua enggak bisa nolak, karena dalam tanda kutip ada semi paksaan," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.