Akurat

Kecerdasan Buatan dan Militerisme: Berkaca dari Perang di Jalur Gaza

Eko Krisyanto | 15 Maret 2024, 10:07 WIB
Kecerdasan Buatan dan Militerisme: Berkaca dari Perang di Jalur Gaza

AKURAT.CO Perang Israel-Palestina sudah memasuki bulan kelima. Sudah lebih dari 28.000 warga Palestina dan lebih dari 1000 warga Israel tewas dalam perang ini.

Walaupun pertikaian kedua belah pihak juga terjadi di Tepi Barat, namun Gaza adalah 'teater' utama perang besar ini. Semenjak perang meletus pada Oktober 2023, upaya gencatan senjata dan humanitarian sudah dibahas di Dewan Keamanan maupun Majelis Umum PBB, namun belum ada solusi yang konklusif.

Di saat yang sama, perang ini sudah memasuki dimensi baru yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Pemakaian kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata dioptimalkan secara masif oleh Angkatan Bersenjata Israel atau Israel Defence Force (IDF).

Baca Juga: AI Canggih Berpotensi Mengancam Kehidupan, Manusia Punah?

Apakah ini pertama kalinya kecerdasan buatan digunakan pada medan perang? Apa sains dan teknologi yang mendasarinya, dan bagaimana seharusnya dunia menyikapinya?

Sebelumnya, kecerdasan buatan sudah digunakan pada berbagai palagan. Di antaranya pada palagan di Nagorno-Karabakh tahun 2020, maupun di Ukraina dari tahun 2022 sampai sekarang.

Salah satunya adalah penggunaan 'Drone Kamikaze' yang tidak bisa di 'jammed' oleh pengacau sinyal. Hanya saja, informasi terkait basis sains dan teknologi yang digunakan pada beberapa perang tersebut sangat terbatas, karena sumber informasi yang kurang juga.

Berbeda sekali dengan perang di Jalur Gaza yang terjadi sekarang. Segera setelah perang meletus pada 7 Oktober 2023, beberapa media barat sendiri memuat informasi penting dari narasumber mantan
petinggi IDF maupun intelejen Israel, yang pernah terlibat dalam program kecerdasan buatan untuk kepentingan militer.

Sebenarnya, jauh lebih awal, menurut reportase Washington Post pada November 2021, program tersebut dinamai 'Blue Wolf'. Program militer ini dikembangkan dengan menggunakan basis algoritma 'Large Language Modeling' (LLM) dan 'Large Vision Modeling' (LVM).

LLM adalah algoritma yang dilatih dengan bahasa manusia dalam jumlah masif atau maha data untuk menghasilkan sistem cerdas, salah satu aplikasinya adalah ChatGPT dari OpenAI. Kemudian LVM juga menggunakan maha data untuk menghasilkan sistem cerdas, hanya saja data yang digunakan adalah gambar dan video.

Baca Juga: Pentingnya Menutup Kesenjangan Keterampilan AI di Indonesia

Aplikasi LVM yang terkenal adalah Midjourney dan DALLE. Perbedaan utama kedua algoritma tersebut adalah pada struktur datanya, namun dalam substansi algoritmik sama saja. Misalnya mereka mendeploy scoring matrix berbasis aljabar linier untuk komputasi semua datanya.

Program Blue Wolf ini menjadikan interaksi bahasa dan audio-visual dari pihak lawan dalam skala masif adalah inputnya, diproses oleh kecerdasan buatan. Outcome-nya adalah labeling target potensial untuk operasi militer.

Secara gamblang, mereka melakukan klasterisasi dan scoring terhadap target sasaran, dengan pemimpin militer memiliki skor tertinggi, dan penduduk sipil paling rendah. Mereka memang memberi 'harga' tertentu pada nyawa manusia.

Salah satu pengembangan LLM dan LVM, yang masih masuk ranah kecerdasan buatan spesifik, adalah ke ranah 'Killer Robot' atau 'lethal autonomous weapon' (LAWS) yang lebih umum dan cerdas menyerupai manusia seperti di film Terminator.

Mengkaji algoritma Blue Wolf, jelas memang diarahkan ke disproportionate war atau menargetkan siapa saja. Selain itu, memprihatinkannya, Palestina hanya mengunakan militer konvensional, Israel sudah gunakan kecerdasan buatan seperti di film science-fiction.

Melihat keunggulan Israel tersebut, tidak tertutup kemungkinan bahwa sistem berbasis LLM & LVM ini akan dikembangkan menjadi 'killer robot' atau LAWS ke depannya. Ini akan menjadikan Palestina maupun negara lain yang angkatan bersenjatanya lebih lemah, menjadi mangsa mereka yang kuat dan target aneksasi oleh bangsa yang teknologinya jauh lebih maju.

Baca Juga: Adopsi di Indonesia Meningkat, Kecakapan AI Bisa Dorong Kenaikan Gaji hingga 36%

Jika seperti ini, maka hubungan internasional akan selalu diwarnai diskursus Homo Homini Lupus, atau 'serigala yang saling memangsa' kalau menurut Thomas Hobbes. Ini sesuatu yang harus dihindari.

PBB, yang didirikan untuk menegakkan perdamaian abadi di dunia sesuai filsafat etika Kantian, seharusnya tidak bisa tinggal diam dan menertibkan potensi chaos ala Hobbesian. PBB harus menentukan sikap, yaitu melarang pengembangan killer robot atau LAWS once and for all, dan mewajibkan seluruh dunia mengembangkan kecerdasan buatan hanya untuk kepentingan perdamaian saja.

Dewan keamanan PBB baru terbatas menyerukan dan mengimbau moratorium pengembangan LAWS, tapi belum ada larangan pengembangan permanen seperti rezim pengendalian senjata pemusnah massal berbasis kimia, biologi, dan nuklir.

Ketiadaan larangan pengembangan LAWS dan mewajibkan penggunaan kecerdasan buatan untuk kepentingan damai, menjadikan rakyat Palestina menjadi korbannya, juga dalam jumlah lebih terbatas, warga Israel juga.

Baca Juga: Bocorkan Rahasia AI untuk Perusahaan China Selama 1 Tahun, Mantan Insinyur Google Ditangkap 

Hal ini tidak boleh terjadi, sekarang dan selamanya kepada negara dan bangsa manapun. Selama PBB belum merilis resolusi konklusif larangan permanen pengembangan LAWS dan mewajibkan riset kecerdasan buatan untuk kepentingan perdamaian dunia, Bangsa Indonesia tidak boleh naif dan menafikan pentingnya pertahanan dan keamanan negara ini dari ancaman agresi berbasis kecerdasan buatan.

BRIN & Kemhan seyogyanya mendorong perkembangan teknologi serupa dengan Blue Wolf untuk deterrence potensi ancaman hankam, bukan untuk agresi. Disproportionate war antara Palestina dan Israel adalah pelajaran bersama, yang tidak boleh terjadi pada kita.

Penulis adalah Prof.Dr.rer.nat. Arli Aditya Parikesit, S.Si., M.Si., Dosen Kajian Bioinformatika Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.