Akurat

Pakar Ingatkan AI Tidak Boleh Korbankan Nilai-nilai Dasar Pendidikan

Siti Nur Azzura | 27 November 2025, 14:31 WIB
Pakar Ingatkan AI Tidak Boleh Korbankan Nilai-nilai Dasar Pendidikan

AKURAT.CO Pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), menuntut dunia pendidikan untuk membaca zaman dengan lebih matang. Untuk itu, pentingnya menjaga fondasi karakter sekaligus membuka ruang bagi inovasi teknologi, dalam menghadapi gelombang disrupsi AI.

Meski demikian, pakar pendidikan nasional, Prof. Yudi Latif, mengingatkan bahwa inovasi tidak boleh mengorbankan nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi akar pendidikan Indonesia. 

"Pendidikan itu lokomotif peradaban. Kalau tidak ada yang peduli, lokomotif republik ini tidak akan berjalan baik," kata Yudi dalam Seminar Nasional "Desain Ulang Pendidikan Indonesia" yang digelar Yayasan Rawamangun Mendidik di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, dikutip Kamis (27/11/2025). 

Baca Juga: YouTube Music Luncurkan Rekap 2025 dengan Fitur AI Interaktif, Kalahkan Spotify Wrapped

Dia menjelaskan, bangsa ini tidak berdiri di ruang kosong. Ada warisan pendidikan yang harus tetap menjadi dasar, seperti budi pekerti, akhlak, karakter, serta kecakapan literasi dasar membaca, menulis, dan berhitung.

"Dengan adanya AI bukan berarti semua warisan usang dan harus dirobohkan. Pendidikan harus menjaga keseimbangan antara mempertahankan hal-hal fundamental dan mengadopsi metode baru," tegasnya.

Yudi menyoroti kecenderungan dunia pendidikan yang justru meninggalkan hal-hal baik dari masa lalu, sementara mempertahankan tradisi buruk. Seperti pergantian kurikulum yang terlalu sering, dan proyek-proyek bahan ajar yang tak selalu berkualitas.

Dia menegaskan pentingnya keberlanjutan kebijakan, agar sistem pendidikan tidak terus-menerus terhambat. Sejalan dengan itu, Yudi menilai media massa juga harus memberikan ruang lebih besar untuk isu pendidikan, agar tidak tergilas oleh pemberitaan politik harian.

Dia menyebut visi pembangunan nasional saat ini menempatkan sumber daya manusia sebagai prioritas, sehingga ekosistem informasi publik juga harus mendukungnya.

Terkait penggunaan AI di kehidupan sehari-hari, masyarakat juga perlu memilah ruang pemanfaatannya. AI seharusnya dibatasi dalam lingkungan sekolah dan kampus, untuk mencegah mahasiswa mengambil jalan pintas yang dapat menghambat proses pendewasaan intelektual.

Baca Juga: Google Siapkan 'Aluminium OS' Sistem Operasi Android untuk PC dengan Fokus AI

"Dalam proses belajar, orang harus mengembangkan pikirannya sendiri. Kalau bikin makalah atau karya ilmiah, sama sekali tidak boleh memakai AI," ujarnya.

Namun di dunia kerja, Yudi menilai AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu, misalnya untuk riset pasar atau pengumpulan informasi bisnis. "Kita harus pilah-pilah di ruang mana AI boleh digunakan dan ruang mana tidak, supaya semua tumbuh sesuai dengan hakikat bidangnya," katanya.

Menurutnya, kunci menghadapi disrupsi teknologi adalah pendidikan yang berkepribadian kuat namun tetap adaptif. "Kita harus tetap berjejak pada tradisi, sambil terbuka pada praktik terbaik yang datang dari luar," ucapnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.