Akurat

Pakar: AI Hanya Pendamping, Tak Bisa Gantikan Proses Berpikir Manusia

Citra Puspitaningrum | 27 November 2025, 18:32 WIB
Pakar: AI Hanya Pendamping, Tak Bisa Gantikan Proses Berpikir Manusia

AKURAT.CO Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) yang semakin meluas, memicu kekhawatiran baru tentang arah pendidikan Indonesia. Di tengah derasnya disrupsi digital, pendidikan nasional tidak boleh kehilangan pijakan nilai dasar manusia. 

"Kita harus memperkuat aspek-aspek konstan dalam pendidikan. AI boleh berkembang, tetapi kemampuan dasar manusialah yang menentukan apakah teknologi itu membawa manfaat atau tidak," kata Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia (PSIK-Indonesia), Prof. Yudi Latif, Kamis (27/11/2025).

Yudi mengingatkan, pengetahuan dan peradaban masa lalu tetap relevan sebagai fondasi. Menurutnya, manusia tetap harus memahami nilai logis, mampu membedakan yang benar dan salah, serta memiliki kepekaan estetis dalam menilai kepantasan dan keindahan.

Baca Juga: Pakar Ingatkan AI Tidak Boleh Korbankan Nilai-nilai Dasar Pendidikan

"Kita sekarang bukan hanya menghadapi persoalan etis, tetapi juga bagaimana dalam mengadopsi instrumen baru kita tetap berpijak pada aspek fundamental tersebut," ujarnya.

Direktur Eksekutif Reform Institute itu juga menyoroti keterbatasan AI, yang kerap dianggap mampu menggantikan proses berpikir manusia. "AI tidak punya sistematika dan tidak punya konsistensi. Jika kita tidak memiliki wawasan dasar, informasi dari AI bisa menyesatkan," ucapnya.

Dia mencontohkan pentingnya proses pembelajaran bertahap, seperti seni lukis yang menuntut penguasaan realis sebelum beralih ke abstrak. Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi pendukung, bukan sandaran utama.

Baca Juga: YouTube Music Luncurkan Rekap 2025 dengan Fitur AI Interaktif, Kalahkan Spotify Wrapped

"Boleh saja sekarang ada AI dan sebagainya, tetapi percayalah, AI itu hanya alat," tuturnya.

Dia juga menolak penggunaan AI sebagai jalan pintas mengerjakan tugas akademik. Proses berpikir, mencoba, mengoreksi, hingga menyusun gagasan, katanya, tetap harus menjadi inti pendidikan.

"Kecakapan dasar untuk belajar, menulis, dan menginformasikan tetap harus dibangun. Jangan sampai kita kehilangan pijakan pada nilai-nilai peradaban," tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.