Akurat

Program Makan Bergizi Gratis Terbukti Berhasil Tingkatkan Indeks Massa Tubuh Anak

Atikah Umiyani | 15 Juli 2025, 15:57 WIB
Program Makan Bergizi Gratis Terbukti Berhasil Tingkatkan Indeks Massa Tubuh Anak

AKURAT.CO Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat adanya peningkatan indeks massa tubuh (IMT) pada anak-anak dan remaja penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah.

Dewan Pakar Bidang Gizi BGN, Ikeu Tanziha, mengatakan, ini sebagai tanda dampak positif program Makan Bergizi Gratis mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

"Hasil pemantauan selama 15 minggu pelaksanaan program di Kota Bogor menunjukkan adanya peningkatan rata-rata IMT menurut umur. Hal serupa juga terjadi di Aceh, di mana status gizi siswa sekolah dasar penerima program Makan Bergizi Gratis menunjukkan perbaikan ke arah status gizi yang lebih baik," katanya, dalam siaran Youtube BGN, Selasa (15/7/2025).

Baca Juga: Penerima Manfaat Makan Bergizi Gratis Hampir Tembus 7 Juta Orang di Awal Juli 2025

Ikeu menjelaskan, IMT adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui status gizi seseorang dengan membandingkan berat dan tinggi badan.

IMT digunakan untuk menilai apakah seseorang memiliki berat badan kurang, normal, berlebih atau obesitas.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan inisiatif pemerintah yang digagas untuk mengatasi berbagai masalah gizi, terutama stunting, pada anak-anak dan ibu hamil/menyusui.

Baca Juga: Presiden Prabowo Luncurkan SPPG Polri, Siap Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis

Melalui program ini, pemerintah berupaya meningkatkan kualitas gizi masyarakat dengan penyediaan makanan bergizi secara langsung, baik di sekolah maupun bagi kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil.

Menurut Ikeu, masalah gizi tidak hanya menjadi tantangan nasional tetapi juga skala global.

Organisasi-organisasi internasional seperti WHO dan UNICEF telah menetapkan enam target global untuk menanggulangi permasalahan gizi, yaitu penurunan prevalensi stunting penurunan prevalensi anemia, penurunan prevalensi berat badan lahir rendah (BBLR), penurunan prevalensi overweight, peningkatan pemberian ASI eksklusif dan penurunan prevalensi wasting (kurus akibat gizi buruk akut).

Baca Juga: Pemkab Bogor Dukung Penuh Program Makan Bergizi Gratis, Minta Penambahan Dapur MBG

Di Indonesia, kata Ikeu, anak-anak masih menghadapi tantangan besar berupa Triple Burden of Malnutrition atau tiga beban gizi.

Kondisi ini terjadi ketika suatu daerah secara bersamaan menghadapi undernutrition (gizi kurang), overnutrition (gizi lebih/obesitas), micronutrient deficiency (kekurangan zat gizi mikro).

Meski demikian, berbagai intervensi pemerintah untuk mengatasi permasalahan gizi mulai menunjukkan hasil positif.

Baca Juga: 60 Persen Anak Indonesia Tidak Pernah Minum Susu, Program Makan Bergizi Gratis Jadi Harapan Baru

Data BGN menunjukkan prevalensi stunting menurun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 14,8 persen di 2024.

Begitu juga dengan prevalensi wasting yang turun dari 8,5 persen menjadi 7,4 persen pada periode yang sama.

"Karena itu, kita harus terus mengupayakan penurunan permasalahan gizi anak-anak bangsa demi mewujudkan Indonesia Maju 2045. Intervensi harus dilakukan sepanjang siklus kehidupan, dimulai dari ibu hamil, ibu menyusui (untuk meningkatkan kualitas ASI) hingga pada anak balita dan remaja," jelas Ikeu.

Baca Juga: Presiden Prabowo Komitmen Percepat Perbaikan Ekonomi Desa dan Perluas Program Makan Bergizi Gratis

Dia juga menekankan pentingnya intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Masa ini disebut sebagai periode emas dalam menentukan status gizi dan tumbuh kembang anak.

"Karena itu, BGN sangat menaruh perhatian pada kelompok ini. Salah satu sasaran utama penerima makanan bergizi (dalam program Makan Bergizi Gratis) adalah ibu hamil, ibu menyusui dan anak balita dalam seribu hari pertama mereka," demikian Ikeu.

Baca Juga: DPR Dorong Program Makan Bergizi Gratis Lebih Ramah Lingkungan

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
W
Editor
Wahyu SK