Di Tengah Kritik Menu MBG, BGN Beberkan Fakta Keterbatasan Pengawasan

AKURAT.CO Polemik kualitas menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan memasuki babak baru.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek S Deyang, secara terbuka mengakui keterbatasan pengawasan dalam program yang menyasar jutaan penerima manfaat tersebut.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Naniek menyampaikan apresiasi atas banyaknya unggahan menu MBG dari orang tua dan pendidik di media sosial.
Namun di balik itu, ia mengungkap fakta yang memantik perhatian: BGN memiliki kurang dari 100 tenaga pengawas untuk memantau sekitar 24 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar dari Sabang hingga Merauke.
“Dengan jumlah tenaga pengawas BGN tidak lebih dari 100 orang tentu sangat berat kami harus mengawasi 24 ribu dapur,” tulis Naniek, dikutip Jumat (27/2/2026).
Pengakuan ini memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan tata kelola program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut, terutama dalam menjamin standar kualitas dan keamanan pangan di lapangan.
Anggaran Rp15 Ribu Diperdebatkan
Naniek juga menanggapi kritik terkait besaran anggaran Rp15.000 per porsi yang dinilai publik tidak sebanding dengan kualitas menu yang beredar di media sosial.
Ia menjelaskan, dari total Rp15.000 itu, alokasi untuk bahan baku makanan berkisar Rp8.000 bagi balita hingga siswa kelas 3 SD, dan Rp10.000 untuk siswa kelas 4 ke atas, ibu hamil, serta ibu menyusui.
Baca Juga: 7 Cara Islami Agar Ngabuburit Asyik Tapi Tetap Dapat Pahala
Sementara Rp3.000 digunakan untuk operasional, dan Rp2.000 untuk sewa lahan, bangunan, serta perlengkapan dapur.
“Masih banyak di medsos yang memaki-maki program MBG lantaran memakai ukuran budget Rp15.000,” tulisnya.
Meski demikian, Naniek mengakui tantangan nyata di lapangan. Dengan pagu bahan baku Rp8.000–Rp10.000, penyusunan menu bergizi menjadi pekerjaan yang tidak mudah, terlebih saat Ramadan ketika harga bahan pokok cenderung meningkat.
“Jujur saya kasihan melihat pengawas gizi yang harus berjibaku menyusun menu dengan budget sebesar itu,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Naniek juga membuka kemungkinan adanya mitra dapur yang mengambil margin cukup besar sehingga menyulitkan pengawas menegakkan standar kualitas.
Di sisi lain, sebagian tenaga pengawas disebut masih berusia muda dan belum memiliki pengalaman memadai dalam mengelola anggaran sesuai pagu yang ditetapkan.
Meski begitu, ia membantah tudingan adanya praktik korupsi atas sisa anggaran.
Menurutnya, seluruh transaksi dilakukan melalui sistem virtual account (VA) rekening bersama, dan sisa dana pada akhir tahun akan ditarik kembali oleh Kementerian Keuangan.
Di akhir pernyataannya, Naniek menyampaikan permintaan maaf atas ketidaksempurnaan pelaksanaan menu MBG selama Ramadan dan berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh.
“Apapun itu, saya minta maaf atas ketidaksempurnaan menu yang kami berikan di bulan Ramadan ini. BGN akan terus berbenah dan memperketat pengawasan terhadap 24.000 SPPG,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai










