Gubernur Jakarta Minta Dinkes Waspadai Super Flu dan Lonjakan DBD Saat Musim Hujan

AKURAT.CO Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk memperketat pemantauan potensi kemunculan super flu dan demam berdarah dengue (DBD) selama musim hujan.
“Saya sudah meminta Kepala Dinas Kesehatan untuk selalu memantau dua hal utama, yakni yang berkaitan dengan super flu dan demam berdarah,” ujar Pramono saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2026).
Pramono mengatakan, hingga saat ini belum ditemukan kasus super flu di Jakarta. Ia berharap ibu kota tetap terbebas dari dua penyakit tersebut, terutama di tengah kondisi cuaca yang mendukung penyebaran penyakit menular.
“Fasilitas kesehatan kita untuk penanganan DBD sudah siap, mulai dari puskesmas pembantu, puskesmas, hingga rumah sakit rujukan,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, Sahruna, mengungkapkan tren kasus DBD di wilayahnya mengalami peningkatan pada periode Oktober hingga Desember 2025.
Sementara itu, pada 1–5 Januari 2026 hingga pukul 16.00 WIB tercatat 19 kasus DBD.
Rinciannya, tujuh kasus terjadi di Kebon Jeruk, empat di Kembangan, tiga di Kalideres, dua di Tambora, serta masing-masing satu kasus di Taman Sari, Grogol Petamburan, dan Cengkareng.
Sahruna menyebut kondisi iklim pada Januari 2026 sangat mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Berdasarkan prediksi BMKG, kelembapan udara diperkirakan mencapai 82 persen dengan suhu berkisar 24 hingga 31 derajat Celsius.
“Kelembapan tersebut berada dalam kisaran optimal bagi nyamuk, yakni 71–83 persen, dengan suhu 24–31 derajat Celsius,” ujarnya.
Baca Juga: Kembali Digugat Cerai, Mantan Terpidana KDRT Alpriado Osmond Diduga Mengintimidasi Pendeta
Untuk mencegah peningkatan kasus, Dinkes terus melakukan pengendalian DBD melalui pemantauan jentik nyamuk dengan mengutamakan peran serta masyarakat.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta mencatat jumlah kasus DBD hingga 19 Januari 2026 mencapai 143 kasus dan diperkirakan masih berpotensi bertambah seiring masuknya musim penghujan.
“Update data kasus tahun 2026 hingga 19 Januari tercatat sebanyak 143 kasus,” kata Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, Ani Ruspitawati, Selasa (20/1/2026).
Ani menjelaskan, tren kasus DBD secara mingguan menunjukkan peningkatan signifikan. Pada minggu ke-53 tahun 2025 tercatat 69 kasus, sementara pada minggu pertama 2026 meningkat menjadi 83 kasus.
Meski demikian, Ani menilai kenaikan tersebut masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan periode yang sama pada Januari 2025.
Ia menyebut penumpukan sampah dan genangan air menjadi faktor utama meningkatnya populasi nyamuk Aedes aegypti.
“Kondisi tersebut menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk sehingga meningkatkan risiko penularan DBD,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Jakarta terus mengintensifkan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menampung air.
Selain itu, Dinkes bekerja sama dengan lurah dan camat untuk melakukan pemantauan rutin lingkungan bersama Jumantik. Pemantauan jentik nyamuk juga ditingkatkan menjadi dua kali dalam sepekan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










