Inflasi Januari 3,55% Lewati Target, BI: Hanya Efek Sementara

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) tetap meyakini inflasi pada 2026 hingga 2027 akan kembali berada dalam kisaran sasaran, meski laju inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 tercatat melampaui target.
Bank sentral menilai tekanan inflasi di awal tahun bersifat sementara dan tidak mencerminkan pelemahan fundamental pengendalian harga.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi IHK Januari 2026 secara tahunan mencapai 3,55% (year on year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Capaian tersebut sedikit melampaui target inflasi BI sebesar 2,5% ±1% atau berada di atas batas atas sasaran 3,5%.
Baca Juga: Isu Politik Dinilai Tak Relevan dalam Pengangkatan Deputi Gubernur BI
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, optimisme bank sentral didukung oleh konsistensi kebijakan moneter serta kuatnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.
“Bank Indonesia tetap meyakini inflasi 2026 dan 2027 akan menurun dan berada dalam rentang target, seiring konsistensi kebijakan moneter dan penguatan koordinasi pengendalian inflasi,” ujar Ramdan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
BI menjelaskan, inflasi tahunan Januari 2026 turut dipengaruhi oleh berakhirnya base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga pada Januari–Februari 2025. Selain itu, penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional turut menjadi faktor penopang stabilitas harga ke depan.
Secara bulanan, inflasi Januari 2026 justru mencatat deflasi 0,15% (month to month/mtm). Kondisi ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang relatif terkendali serta deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices.
Inflasi inti tercatat sebesar 0,37% (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 0,20% (mtm). Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas emas global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Baca Juga: BI Perkuat Pengelolaan Cadangan Devisa Hadapi Volatilitas Global
Secara tahunan, inflasi inti Januari 2026 mencapai 2,45% (yoy), naik dari bulan sebelumnya 2,38% (yoy). Komoditas utama penyumbang inflasi inti antara lain emas perhiasan, sewa rumah, dan sepeda motor.
Sementara itu, kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,96% (mtm), berbalik arah dari inflasi 2,74% (mtm) pada bulan sebelumnya. Deflasi dipicu oleh turunnya harga cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah, seiring peningkatan pasokan pada musim panen.
Secara tahunan, inflasi volatile food tercatat 1,14% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 6,21% (yoy).
“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali, didukung sinergi BI dengan TPIP dan TPID serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” kata Ramdan.
Kelompok administered prices juga mencatat deflasi 0,32% (mtm), berbalik dari inflasi 0,37% (mtm) pada bulan sebelumnya. Deflasi terutama disumbang oleh penurunan harga bensin, tarif angkutan udara, dan angkutan antarkota, seiring penyesuaian harga BBM nonsubsidi dan normalisasi mobilitas pasca Natal dan Tahun Baru.
Namun secara tahunan, administered prices mencatat inflasi cukup tinggi sebesar 9,71% (yoy), meningkat tajam dari 1,93% (yoy) pada bulan sebelumnya. BI menegaskan lonjakan tersebut dipengaruhi oleh base effect dari kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga 50% pada awal 2025.
Dengan berbagai faktor tersebut, BI menilai tekanan inflasi saat ini masih terkendali dan tidak mengganggu stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









