Menakar Arah Kebijakan Moneter Indonesia 2026 di Tengah Tekanan Global

AKURAT.CO Seiring dunia melanjutkan proses pemulihan pascapandemi, kebijakan moneter bank sentral utama masih bergerak dinamis sepanjang 2025 dan menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi arah perekonomian global serta makroekonomi Indonesia memasuki 2026.
Kebijakan yang ditempuh bank sentral utama seperti Federal Reserve Amerika Serikat (The Fed), European Central Bank (ECB), dan sejumlah bank sentral negara maju lainnya membentuk kondisi suku bunga global yang berimplikasi pada arus modal, nilai tukar, serta stabilitas ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam konteks tersebut, Bank Indonesia (BI) menempatkan diri sebagai otoritas yang secara aktif merespons dinamika global.
Penyesuaian suku bunga kebijakan serta optimalisasi instrumen moneter dan stabilisasi nilai tukar dilakukan untuk menjaga stabilitas harga, nilai tukar rupiah, serta mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Tekanan Inflasi dan Pertumbuhan Masih Jadi Pertimbangan
Kebijakan suku bunga bank sentral negara maju menjadi salah satu parameter utama dalam menjaga keseimbangan moneter global. Sepanjang 2025, The Fed masih berada dalam posisi kehati-hatian, menimbang ruang pelonggaran suku bunga di tengah inflasi yang belum sepenuhnya kembali ke target serta prospek pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.
Baca Juga: Fiskal-Moneter Kian Akur, Purbaya Optimistis IHSG Tembus 10.000 di 2026
Berdasarkan pernyataan Bank Indonesia yang mengacu pada konsensus dan ekspektasi pasar, suku bunga kebijakan The Fed diproyeksikan berada di kisaran 4% pada 2025 dan berpotensi mendekati 3% pada 2026.
Namun, arah dan waktu penurunan tersebut sangat bergantung pada perkembangan data inflasi dan pasar tenaga kerja AS. Proyeksi ini menjadi salah satu pertimbangan BI dalam merumuskan bauran kebijakan moneter domestik.
Di kawasan Eropa, ECB secara bertahap mulai menurunkan suku bunga sejak awal 2025 sebagai respons terhadap pelemahan permintaan domestik dan moderasi tekanan inflasi.
Sementara itu, sejumlah negara seperti China dan India juga cenderung mengambil langkah pelonggaran moneter secara bertahap untuk mendorong aktivitas ekonomi domestik.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Revisi UU P2SK Akhiri Sekat Kebijakan Fiskal dan Moneter
Variasi arah kebijakan moneter global tersebut, sebagaimana dicatat Kementerian Keuangan melalui DJPK, berdampak langsung terhadap pergerakan pasar keuangan global, arus modal lintas negara, serta stabilitas nilai tukar di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Respons Bank Indonesia Sepanjang 2025
Menanggapi dinamika global tersebut, Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter yang adaptif sepanjang 2025.
Dalam berbagai rilis resmi, BI mencatat telah melakukan penyesuaian suku bunga kebijakan dan instrumen likuiditas guna menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dalam Tinjauan Kebijakan Moneter Desember 2025, BI menyampaikan bahwa pelonggaran kebijakan moneter dilakukan sejalan dengan inflasi domestik yang terjaga dalam sasaran serta kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Selain suku bunga kebijakan, BI juga menyesuaikan sejumlah suku bunga fasilitas moneter dan mengelola likuiditas di pasar uang.
Namun demikian, BI juga mengakui bahwa transmisi pelonggaran moneter ke sektor riil, khususnya suku bunga kredit perbankan, tidak berlangsung secara instan.
Penurunan suku bunga kredit tercatat lebih lambat dibandingkan penurunan suku bunga dana, mencerminkan adanya tantangan struktural dalam sistem keuangan dan perbankan.
Baca Juga: BI Buka Ruang Pelonggaran Moneter, Syaratnya Dua Hal Ini
Sepanjang paruh kedua 2025, BI beberapa kali menyesuaikan suku bunga kebijakan, termasuk penurunan 25 basis poin pada pertengahan tahun.
Langkah tersebut ditempuh dengan mempertimbangkan prakiraan inflasi yang relatif terkendali serta kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, tanpa mengabaikan stabilitas nilai tukar rupiah.
Transmisi Moneter dan Dinamika Nilai Tukar Rupiah
Perubahan kebijakan suku bunga, baik di dalam negeri maupun global, berimplikasi langsung pada nilai tukar dan arus modal.
Pada 2025, Bank Indonesia secara aktif melakukan stabilisasi di pasar valuta asing guna meredam tekanan terhadap rupiah yang muncul akibat faktor eksternal, termasuk ketidakpastian kebijakan moneter global dan dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat.
Mengutip dari laman Reuters pada Maret 2025, rupiah sempat mengalami tekanan signifikan terhadap dolar AS. Menyikapi kondisi tersebut, BI memperluas intervensi melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.
Baca Juga: Peran Likuiditas Bank Sentral dalam Menjaga Stabilitas Moneter: Begini Penjelasannya
Langkah-langkah stabilisasi tersebut bertujuan menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing serta memperkuat kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia. Financial Times juga mencatat bahwa strategi intervensi BI dilakukan secara terukur untuk meminimalkan volatilitas tanpa mengganggu mekanisme pasar.
Implikasi terhadap Arus Modal
Bank Indonesia menilai bahwa dinamika kebijakan moneter global, khususnya arah suku bunga The Fed, akan tetap menjadi faktor kunci dalam menentukan pergerakan arus modal ke negara berkembang pada 2026. Potensi pelonggaran moneter global berpeluang mendorong kembali aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Namun, BI juga menekankan bahwa arus modal tersebut bersifat sensitif terhadap perubahan ekspektasi pasar dan risiko global. Volatilitas tetap berpotensi meningkat apabila penyesuaian kebijakan moneter global berlangsung lebih cepat atau berbeda dari ekspektasi pasar.
Penurunan suku bunga kebijakan diarahkan untuk menurunkan biaya pembiayaan bagi dunia usaha dan mendorong pertumbuhan kredit. Namun, BI mencatat bahwa dampak kebijakan moneter terhadap kredit perbankan umumnya membutuhkan jeda waktu.
Pejabat BI menyampaikan bahwa efek pelonggaran moneter terhadap pertumbuhan kredit diperkirakan mulai terasa dalam rentang waktu sekitar enam bulan, sementara dampaknya terhadap pasar keuangan dapat terjadi lebih cepat.
Dalam konteks investasi, perubahan suku bunga domestik dan global turut memengaruhi daya tarik instrumen keuangan Indonesia di mata investor asing.
Reuters mencatat bahwa peningkatan arus modal ke instrumen berimbal hasil tinggi di negara berkembang sangat bergantung pada kombinasi kebijakan moneter global, persepsi risiko, serta fundamental ekonomi domestik masing-masing negara.
Baca Juga: Empat Langkah BI Perkuat Ekonomi Lewat Bauran Kebijakan Moneter
Memasuki 2026, BI memandang bahwa risiko global belum sepenuhnya mereda. Ketidakpastian kebijakan moneter global, tensi geopolitik, serta normalisasi harga komoditas tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi dalam perumusan kebijakan moneter domestik.
Dalam berbagai pernyataan, BI menegaskan pentingnya menjaga bauran kebijakan yang seimbang, dengan mempertimbangkan stabilitas nilai tukar, inflasi, pertumbuhan kredit, serta kondisi likuiditas di sistem keuangan. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter juga dipandang krusial untuk menjaga stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.
Secara keseluruhan kebijakan moneter Indonesia pada 2026 berada pada persimpangan antara dinamika global dan kebutuhan domestik.
Langkah-langkah kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia sepanjang 2025 menjadi fondasi dalam menghadapi potensi perubahan kebijakan bank sentral dunia pada tahun mendatang.
Dengan pendekatan berbasis data, bauran kebijakan yang adaptif, serta koordinasi lintas otoritas, Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah lanskap moneter global yang masih dinamis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









