Akurat

BI: Surplus Dagang Oktober Jadi Penopang Ketahanan Eksternal RI

Hefriday | 2 Desember 2025, 08:30 WIB
BI: Surplus Dagang Oktober Jadi Penopang Ketahanan Eksternal RI

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menilai surplus neraca perdagangan pada Oktober 2025 yang mencapai USD2,39 miliar menjadi sinyal positif bagi ketahanan eksternal perekonomian nasional.

Surplus tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memastikan ketahanan eksternal Indonesia tetap solid.

“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (2/12/2025).

Baca Juga: BI Buka Peluang Turunkan Suku Bunga Demi Genjot Ekonomi 2026

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan pada Oktober 2025 melanjutkan capaian bulan sebelumnya.

Pada September 2025, surplus tercatat sebesar USD4,34 miliar. Meskipun lebih rendah, surplus di Oktober menunjukkan konsistensi kinerja perdagangan luar negeri Indonesia.

BPS menjelaskan bahwa surplus pada Oktober sebagian besar disumbang oleh neraca perdagangan nonmigas yang tetap kuat.

Pada bulan tersebut, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus USD4,31 miliar. Angka ini didukung oleh ekspor nonmigas yang mencapai USD23,34 miliar.

Ekspor nonmigas Indonesia masih ditopang komoditas berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani maupun nabati, serta bahan bakar mineral.

Selain itu, ekspor produk manufaktur juga memperlihatkan performa positif, terutama mesin dan perlengkapan elektrik serta ragam produk kimia.

Baca Juga: Bos BI: Hilirisasi Jadi Kunci Dorong Ekonomi Tumbuh Lebih Tinggi

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi pasar utama bagi ekspor Indonesia. Tiga negara tersebut konsisten menyerap produk-produk unggulan RI, membantu menjaga momentum pertumbuhan ekspor nonmigas.

Meski kinerja nonmigas mencatat hasil menggembirakan, neraca perdagangan migas justru mengalami tekanan. Defisit pada sektor tersebut meningkat menjadi USD1,92 miliar pada Oktober 2025.

Peningkatan defisit migas disebabkan oleh tingginya impor migas yang tidak diimbangi dengan ekspor.

BPS mencatat penurunan ekspor migas terjadi pada periode tersebut, sementara kebutuhan impor meningkat, baik untuk bahan bakar maupun penopang industri domestik.

BI menilai perkembangan ini perlu terus dicermati, terutama karena fluktuasi harga energi global dapat memengaruhi posisi neraca migas.

Meski demikian, surplus nonmigas yang masih kuat memberikan bantalan yang cukup bagi stabilitas eksternal secara keseluruhan.

BI menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk melalui penguatan sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan.

Upaya menjaga surplus perdagangan yang berkelanjutan dinilai penting dalam menghadapi tekanan eksternal dan menjaga prospek pertumbuhan ekonomi nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi