Akurat

Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.467 Imbas Rendahnya Inflasi Produsen AS

Hefriday | 11 September 2025, 13:15 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp16.467 Imbas Rendahnya Inflasi Produsen AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Kamis (11/9/2025). Rupiah tercatat naik 2,5 poin atau 0,02% ke posisi Rp16.467 per USSD.

Penguatan ini melanjutkan tren positif yang terjadi sehari sebelumnya. Pada perdagangan Rabu (10/9/2025), rupiah sempat ditutup naik 12 poin atau 0,07% di level Rp16.469,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS pada perdagangan Kamis tercatat naik tipis 0,07% ke posisi 97,84. Meski demikian, tekanan terhadap mata uang Negeri Paman Sam masih cukup besar akibat rilis data inflasi produsen AS yang lebih rendah dari perkiraan pasar.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai penguatan rupiah hari ini tidak terlepas dari faktor eksternal. Menurutnya, pelemahan indeks dolar menjadi pemicu utama pergerakan positif mata uang Garuda. 
 
 
“Rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp16.400–Rp16.500 seiring melemahnya indeks dolar setelah rilis data inflasi produsen AS,” ujar Rully dalam keterangannya, Kamis (11/9/2025).

Data yang dimaksud adalah Producer Price Index (PPI) AS bulan Agustus 2025. Mengutip laporan Xinhua, angka PPI turun 0,1%, padahal pasar memperkirakan kenaikan 0,3%. Penurunan juga terjadi pada PPI inti yang merosot 0,1%, jauh di bawah proyeksi kenaikan 0,3%.

Rully menjelaskan, rendahnya inflasi produsen AS memberikan sinyal bahwa kebijakan tarif Presiden Donald Trump belum berdampak signifikan terhadap harga barang dan jasa. 
 
“Ketatnya persaingan membuat produsen di AS enggan menaikkan harga. Mereka lebih memilih mengorbankan margin keuntungan dan meningkatkan efisiensi melalui teknologi,” katanya.

Kondisi tersebut dipandang memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Federal Reserve berpeluang menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Penurunan suku bunga akan melemahkan dolar AS, sehingga membuka ruang bagi rupiah untuk melanjutkan penguatannya.

Lebih lanjut, Rully menilai dalam jangka menengah dan panjang, nilai tukar rupiah akan kembali mencerminkan fundamental ekonomi. Ia memperkirakan, rupiah bisa menguat lebih dari 10% jika tren pelemahan dolar berlanjut. 
 
“Dengan dolar AS yang sudah melemah sekitar 10% dari level terkuatnya karena isu tarif, rupiah seharusnya mampu menguat kembali hingga ke level Rp15 ribuan,” tambahnya.

Meski begitu, Rully mengingatkan bahwa pergerakan rupiah tetap rentan dipengaruhi faktor eksternal. Isu geopolitik global, kebijakan perdagangan AS, serta kondisi ekonomi China dan Eropa masih menjadi variabel penting yang harus dicermati pelaku pasar.
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa