Akurat

Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Menkeu, Ekonom: Pilihan Terbaik Saat Ini

Yosi Winosa | 8 September 2025, 17:42 WIB
Purbaya Yudhi Sadewa Jadi Menkeu, Ekonom: Pilihan Terbaik Saat Ini

AKURAT.CO Presiden Prabowo mereshuffle sejumlah menteri di kabinetnya pada Sore hari ini, Senin (8/9/2025), termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang digantikan Purbaya Yudhi Sadewa. 

Respons pasar terhadap pengumuman ini pun beragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup memerah 100,5 poin (1,28%) ke level 7.766,85. Sementara itu, rupiah ditutup menguat 123 poin (0,75%) ke Rp16.309,5 yang lebih didominasi oleh sentimen eksternal.

Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto melihat Menkeu Purbaya memiliki rekam jejak yang menarik, terutama dengan pengalaman profesionalnya di Danareksa dan juga sejumlah kementerian sebelum akhirnya menjabat Ketua LPS.

Baca Juga: 5 PR Buat Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan Baru Pengganti Sri Mulyani

"Dalam konteks manajemen keuangan korporasi maupun birokrasi kepemerintahan beliau ngerti. Struktur berpikir dan pendekatannya terarah, teknikal lah. Artinya tim seleksi saat menjaring sejumlah nama, mungkin Pak Presiden punya wisdom ini lah pilihan terbaik yang tersedia saat ini. Saya yakin proses asesmen sudah melalui proses asesmen luar biasa," ujar Ryan kepada Akurat.co, Senin (8/9/2025).

Ditambahkan, dengan latar belakanggnya, Menkeu Purbaya diharapkan langsung bisa "berlari" di tengah situasi yang menantang saat ini. Ada tekanan publik dan tuntutan ataupun aspirasi "17+8" dari rakyat yang harus diaddress satu per satu berdasarkan skala prioritas.

"Mudah-mudahan sudah bisa langsung lari. Beliau memimpin LPS yang merupakan member tetap KSSK, sehingga saat memimpin KSSK learning curve nya sudah bagus. Kemudian pengalamannya di birokrasi juga akan memudahkan membangun chemistry dengan para wamenkeu, sehingga sinkronisasi, harmonisasi, sinergi, konsolidasi, bisa langsung terjadi sejak hari pertama kerja," imbuh Ryan.

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, namun Menkeu Purbaya perlu lebih banyak mendengar suara publik dan stakeholders sehingga tercipta sentimen pasar yang tetap positif dan kuat menghadapi berbagai tantangan ke depan termasuk tarif Trump, fragmentasi global dan risiko geopolitik lainnya.

"Dengan ekspektasi publik saat ini yang lagi tinggi-tingginya, beliau sebagai kasir negara, pesan saya kalau bikin kebijakan yang menyentuh hajat hidup orang banyak betul-betul dikomunikasikan dengan baik karena itu sensitif sekali. Kenaikan PPN kemarin contohnya bikin gaduh, bukan substansi kenaikannya yang disoal, tapi komunikasinya yang kurang elok. Belajar dari yang sebelumnya," saran Ryan. 

Terakhir, Menkeu Purbaya juga perlu mendalami esensi Astha Cita, program unggulan Presiden Prabowo yang terkait erat dengan alokasi anggaran termasuk MBG, KDMP, 3 Juta Rumah. Menkeu Purbaya perlu memastikan ketersediaan anggaran yang bersumber dari pembiayaan domestik dan tak memperbesar porsi utang luar negeri karena sangat sensitif.

"Ibu SMI kemarin sudah declare bahwa pemerintah tahun depan tak akan otak-atik pajak, artinya perlu eksplorasi sumber-sumber penerimaan dalam negeri, memperbanyak basket penerimaan dan memastikan target penerimaan negara achieve sehingga defisit fiskal tak melebar. Apalagi dengan eksistensi Danantara sekarang yang telah mengoccupy penerimaan dividen BUMN sekitar Rp85 triliun, tantangannya makin besar," pesan Ryan.

Lelang SBN Bakal Sepi Peminat?

Penggantian Sri Mulyani Indrawati yang dikenal erat dengan investor dan pasar karena pengalaman dan jariangannya yang luas menimbulkan tanda tanya, bagaimana pemerintah bakal mengamankan sumber pembiayaan dari pasar ke depan?

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuabi menilai ke depan, program pemerintah yang secara pembiayaannya sebelumnya dipegang oleh SMI bisa saja berubah secara kebijakan.

SMI dikenal cerdik dalam mencari dana talangan APBN, yang sangat dibutuhkan untuk membiayai berbagai program prioritas presiden termasuk pembangunan rumah subsidi, KDMP dan MBG dengan anggaran jumbo.

"Selama ini Menkeu selalu melakukan lelang SBN dan selalu laku keras. Ke depan akankah masih seperti ini? Saat ini, untuk lelang di pasar obligasi sekunder, porsi investor asing dan domestik masing-masing sekitar 30-70% dalam negeri. Investor dalam negeripun sudah didominasi Himbara dan perbankan swasta," papar Ibrahim.

Ada kekhawatiran, lanjut Ibrahim, saat Menkeu baru melelang ke pasar akan kurang begitu laku, meskipun BI masih bisa bertindak sebagai standby buyer lewat skema konsinyasi atau multilateral.

"Ke depan akan seperti apa? Kita sama-sama menantikan (kebijakan baru). Yang jelas reshuffle kabinet dampak penurunannya besar di pasar hari ini, tapi hari berikutnya saya rasa tak akan begitu tajam (pelemahannya) seiring kesadaran bahwa reshuffle itu memang hak prerogatif presiden," tukas Ibrahim.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa