BI: Surplus Perdagangan Juli Perkuat Ketahanan Eksternal Ekonomi RI
Hefriday | 2 September 2025, 18:42 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menilai surplus neraca perdagangan pada Juli 2025 menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD4,17 miliar, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai USD4,10 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan capaian ini menunjukkan fundamental eksternal Indonesia yang tetap solid di tengah dinamika ekonomi global.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain guna menjaga ketahanan eksternal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (2/9/2025).
BPS mencatat, surplus tersebut terutama disumbang oleh kinerja positif neraca perdagangan nonmigas. Pada Juli 2025, neraca nonmigas mencatat surplus USD5,75 miliar, sejalan dengan peningkatan ekspor nonmigas yang mencapai USD23,81 miliar.
BPS mencatat, surplus tersebut terutama disumbang oleh kinerja positif neraca perdagangan nonmigas. Pada Juli 2025, neraca nonmigas mencatat surplus USD5,75 miliar, sejalan dengan peningkatan ekspor nonmigas yang mencapai USD23,81 miliar.
Komoditas berbasis sumber daya alam menjadi pendorong utama ekspor nonmigas. Produk seperti bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati, serta minyak hewani mencatat pertumbuhan signifikan. Selain itu, ekspor produk manufaktur, termasuk mesin, peralatan mekanis, serta besi dan baja, turut memperkuat performa ekspor nasional.
Dari sisi mitra dagang, ekspor nonmigas Indonesia ke China, Amerika Serikat, dan India masih mendominasi kontribusi terhadap total ekspor. Tiongkok tetap menjadi pasar terbesar, khususnya untuk komoditas mineral dan produk manufaktur, sementara Amerika Serikat dan India menyerap produk berbasis pertanian serta industri olahan.
Dari sisi lain, neraca perdagangan migas justru mengalami pelebaran defisit. Pada Juli 2025, defisit migas tercatat USD1,58 miliar, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi ini dipicu oleh kenaikan impor migas, sementara ekspor migas mengalami penurunan akibat melemahnya harga dan permintaan global.
Meski demikian, BI menilai surplus neraca perdagangan yang konsisten mampu memberikan bantalan bagi perekonomian domestik. Surplus ini memperkuat posisi cadangan devisa serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








