Serial Kemerdekaan I: Menjaga Momentum Nyala Pertumbuhan Ekonomi RI dan Makna Kemerdekaan ke-80 Tahun

AKURAT.CO Di tengah persiapan perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, ada satu kabar baik yang pantas menjadi hadiah bagi seluruh rakyat, yakni pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2025 yang mencapai 5,12% secara tahunan (year-on-year/Y-o-Y).
Angka ini tidak hanya melampaui proyeksi lembaga global seperti IMF, tetapi juga menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan tertinggi kedua di antara anggota G20 setelah China.
"Alhamdulillah kita kembali ke jalur 5 persen, jadi 5,12%. Indonesia hanya di bawah China yang 5,2%. Beberapa negara di bawah kita mulai Malaysia, Singapura, kemudian berbagai negara lain, termasuk Amerika yang dua persen, kemudian Korea juga rendah, sehingga di antara negara G20 dan ASEAN, kita salah satu yang tertinggi,” ucap Menko Airlangga Hartarto, dalam konferensi pers di Jakarta, 5 Agustus 2025
Angka tersebut pun juga dirilis secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di hari yang sama. Dalam laporan BPS, disebutkan bahwa konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor menjadi tiga komponen utama pendorong pertumbuhan.
Kekuatan konsumsi rumah tangga kembali menjadi andalan. Dengan kontribusi sebesar 54,25% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), konsumsi masyarakat menjadi penopang utama ekonomi nasional.
Baca Juga: Pentingnya Investasi Tambang agar Iklim Ekonomi Terjaga
Peningkatan belanja kebutuhan pokok, makanan jadi, hingga sektor transportasi dipicu oleh momentum hari besar keagamaan dan libur sekolah.
Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi dalam empat tahun terakhir, nyaris mencapai 7%. Ini tidak lepas dari percepatan proyek infrastruktur strategis pemerintah seperti MRT Jakarta fase 3 dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus.
Ekspor juga menjadi penopang signifikan. Di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global, Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan ekspor komoditas unggulan seperti kelapa sawit, logam dasar, dan produk elektronik.
Fenomena "front-loading" ekspor akibat ketidakpastian tarif internasional turut memperkuat posisi perdagangan luar negeri RI.
Dimensi Wilayah dan Produksi
Secara spasial, pertumbuhan ekonomi terjadi merata di seluruh wilayah Indonesia. Pulau Jawa, yang menjadi episentrum ekonomi nasional, mencatatkan kontribusi 56,94% terhadap PDB dengan pertumbuhan 5,24%. Sulawesi menempati posisi kedua dengan pertumbuhan 5,83%.
Baca Juga: Pinjol Ilegal di Sultra Kian Marak, OJK Ingatkan Risiko dan Literasi Digital
Maluku Utara mencatat kejutan besar, dimana pertumbuhan ekonomi provinsi itu mencapai 32,09% secara tahunan, tertinggi di Indonesia. Lonjakan ini ditopang oleh ekspansi industri pengolahan dan pertambangan di wilayah tersebut, menunjukkan pentingnya pembangunan luar Jawa dalam menopang ekonomi nasional.
Di sisi lapangan usaha, sektor jasa lain-lain tumbuh paling tinggi, mencapai 11,31%, sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh pesat secara kuartalan karena musim panen raya.
Simbolisme 80 Tahun Indonesia Merdeka
Menjelang 17 Agustus, kita akan menyaksikan parade, lomba panjat pinang, dan pidato kenegaraan. Semua meriah, semua penting. Tapi hadiah terbaik bagi rakyat bukan itu. Hadiah terbaik adalah harga beras yang stabil, lapangan kerja yang layak, dan sektor pertanian yang tidak lagi dianggap anak tiri.
Tahun 2025 memang menjadi tahun istimewa bagi Republik Indonesia. Memasuki usia ke-80 tahun, tema besar kemerdekaan yang diusung adalah 'Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju'.
Oleh karena itu, tema ini mencerminkan semangat kolektif untuk terus tumbuh, bersatu, dan membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Pertumbuhan ekonomi triwulan II ini, dalam konteks tersebut, tidak sekadar angka. Ia adalah cermin keberhasilan bersama. Dari petani hingga pekerja konstruksi, dari UMKM hingga eksportir besar, semua memiliki andil dalam capaian ini.
Pertumbuhan ekonomi bukan hanya urusan elite teknokrat di Jakarta, melainkan hasil nyata kerja keras seluruh lapisan masyarakat.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu segera memastikan bahwa pertumbuhan ini menjelma menjadi program konkret, distribusi kredit bagi sektor produktif, penataan ulang insentif fiskal, dan penguatan jaring pengaman sosial.
Menjaga Api Pertumbuhan Tetap Menyala
Ada lima hal yang menjadi kunci menjaga momentum ini. Pertama, menjaga stabilitas harga dan inflasi agar daya beli tidak terganggu.
Kedua, percepatan proyek infrastruktur yang inklusif hingga ke pelosok. Ketiga, diversifikasi pasar ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada mitra dagang utama.
Baca Juga: Mantap! Pertumbuhan Ekonomi RI Tertinggi Kedua di G20 Lampaui AS dan Eropa
Keempat, pengembangan ekonomi digital dan UMKM sebagai tulang punggung tenaga kerja. Kelima, peningkatan produktivitas dan kualitas sumber daya manusia.
Pertumbuhan ekonomi 5,12% pada triwulan II 2025 merupakan lebih dari sekadar capaian statistik. Ia adalah hadiah ulang tahun ke-80 bagi Indonesia.
Namun seperti halnya hadiah, ia juga membawa tanggung jawab untuk menjaga, mengelola, dan memperkuatnya.
Baca Juga: UMK Binaan Pelindo Raup Rp250 Juta di Gelar Batik Nusantara 2025
Oleh sebab itu, momentum ini harus dijaga tidak hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat. Melalui kerja keras, solidaritas, dan kebijakan yang tepat sasaran, pertumbuhan ekonomi dapat menjadi jembatan menuju cita-cita besar Indonesia Emas 2045.
"Kemerdekaan sejati, pada akhirnya, adalah saat rakyat tidak hanya merdeka secara politik, tetapi juga secara ekonomi."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









