Mengenang Kwik Kian Gie: Ekonom Kritis, Nasionalis Serta Pejuang Kemandirian Bangsa

AKURAT.CO Indonesia berduka. Pada Senin malam, 28 Juli 2025, bangsa ini kehilangan salah satu putra terbaiknya, Kwik Kian Gie yang dikenal luas sebagai ekonom senior pemikir kritis, jujur, dan teguh pada prinsip kemandirian nasional.
Wafatnya tokoh kelahiran Jakarta, 11 Januari 1935 ini meninggalkan duka mendalam, tak hanya di kalangan ekonomi dan politik, namun juga masyarakat luas yang menghormati pemikirannya yang tajam dan tulus untuk Indonesia.
Profil Singkat
Kwik Kian Gie lahir dari keluarga Tionghoa sederhana di Jakarta. Ia menempuh pendidikan tinggi di Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam (sekarang Erasmus University Rotterdam) pada 1958, di mana ia mendalami ekonomi hingga meraih gelar sarjana. Setelah kembali ke Indonesia, ia pun aktif di dunia bisnis dan akademik, sebelum akhirnya masuk ke dunia pemerintahan dan politik.
Baca Juga: Kwik Kian Gie Tutup Usia, Indonesia Kehilangan Sosok Ekonom Kritis dan Nasionalis
Meski dikenal sebagai tokoh yang berprinsip tegas, Kwik tidak pernah kehilangan sikap rendah hati dan kesederhanaannya. Dalam berbagai kesempatan, ia lebih memilih menyuarakan pemikiran melalui tulisan, kuliah umum, serta diskusi publik dibandingkan tampil dalam sorotan media.
Rekam Jejak dalam Pemerintahan
Dalam dunia pemerintahan, Kwik tercatat sebagai salah satu teknokrat yang dipercaya memegang posisi penting pada era reformasi.
Ia menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (2001–2004) dalam Kabinet Gotong Royong di bawah Presiden Megawati Soekarnoputri. Sebelumnya, ia juga dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (1999–2000) pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid.
Dalam jabatan-jabatan itu, Kwik dikenal sebagai pengambil kebijakan yang berhati-hati, terutama dalam hal utang luar negeri, privatisasi BUMN, dan liberalisasi ekonomi.
Baca Juga: Ketahui Manfaat Berdansa seperti Saran Kwik Kian Gie ke Sandiaga Uno
Ia menolak pendekatan yang terlalu berorientasi pasar dan lebih mendorong ekonomi yang berdikari. Bagi Kwik, Indonesia harus membangun dari kekuatan sendiri, dengan menjaga kepemilikan aset strategis dan melindungi sektor-sektor vital.
Kontribusi dalam Dunia Akademik
Kwik juga memiliki jejak kuat di dunia akademik. Ia mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta dan aktif mengajar selama bertahun-tahun.
Selain itu, ia menulis berbagai buku dan artikel yang membedah kondisi ekonomi nasional dengan bahasa yang lugas namun mendalam. Buku-bukunya menjadi referensi utama bagi banyak mahasiswa dan peneliti ekonomi Indonesia.
Salah satu keunggulan Kwik adalah kemampuannya menjelaskan isu-isu ekonomi kompleks dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Ia tak hanya mengandalkan data dan teori, tetapi juga mengajak masyarakat untuk berpikir kritis atas setiap kebijakan pemerintah yang diambil.
Perjalanan Politik
Di dunia politik, Kwik sempat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Keberadaannya dalam dunia politik bukan untuk mencari kekuasaan, melainkan sebagai saluran memperjuangkan gagasan-gagasannya untuk kemandirian ekonomi Indonesia.
Meski pernah aktif dalam partai politik, Kwik tak ragu untuk bersikap independen dan mengkritik kebijakan yang menurutnya menyimpang dari kepentingan rakyat.
Kejujurannya ini menjadikannya sosok yang dihormati oleh banyak kalangan, termasuk mereka yang berbeda pandangan politik dengannya.
Pemikiran yang Hidup Setelah Kepergian
Warisan terbesar Kwik Kian Gie adalah pemikirannya. Dalam berbagai pidato dan tulisannya, ia menekankan pentingnya membangun ekonomi nasional dengan fondasi yang kuat, berkelanjutan, dan tidak bergantung pada kekuatan asing.
Ia percaya bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk maju jika mampu memberdayakan sumber daya sendiri dan melibatkan rakyat sebagai bagian dari solusi.
Bagi Kwik, nasionalisme bukanlah jargon, melainkan komitmen nyata untuk menjaga kedaulatan ekonomi. Ia menolak kompromi terhadap kepentingan nasional, dan selalu menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan ekonomi global.
Oleh karena itu kepergian Kwik Kian Gie meninggalkan ruang kosong di jagat pemikiran Indonesia. Namun, ide dan nilai yang ia perjuangkan tetap hidup.
Generasi muda, akademisi, ekonom, hingga pembuat kebijakan akan terus belajar dari sikap dan pemikirannya yang berintegritas.
Hatta Rajasa, sahabat sekaligus rekan kerjanya di kabinet, menyampaikan,
“Beliau sangat mencintai Indonesia, tokoh yang kritis namun memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa,” ucapnya.
Bangsa ini mungkin telah kehilangan sosok Kwik secara fisik, namun warisan intelektual dan moralnya akan terus menyala sebagai suluh bagi mereka yang memperjuangkan ekonomi yang adil, mandiri, dan berpihak pada rakyat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








