AKURAT.CO Jelang tenggat waktu pemberlakuan tarif Trump yang baru pada Agustus 2025, Indonesia bergerak cepat.
Tak sekadar merespons tekanan global, pemerintah Indonesia justru mengajukan proposal konkret lewat penandatanganan kesepakatan dagang senilai USD34 miliar.
Kesepakatan ini melibatkan sejumlah korporasi kedua negara serta mencakup sektor energi, pertanian, aviasi, hingga mineral strategis.
Langkah ini bukan sekadar meredakan potensi gesekan dagang dengan Washington, tetapi juga mencerminkan strategi jangka panjang guna memperkuat industri nasional, rantai pasok, dan ketahanan tenaga kerja Indonesia.
Menurut Kedutaan Besar RI di Washington, kesepakatan ini dicapai dalam serangkaian pertemuan tingkat tinggi pada 7 Juli lalu.
Pemerintah turut berperan aktif sebagai penghubung sekaligus fasilitator dalam perundingan antar pemangku kepentingan.
Hasilnya, sejumlah nota kesepahaman (MoU) diteken, membuka peluang baru bagi perusahaan Indonesia dan memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
“Indonesia hadir bukan sebagai pihak yang ditekan, melainkan sebagai mitra dagang yang punya nilai strategis jangka panjang,” ujar David Barrett, CEO EBC Financial Group (UK) Ltd dalam keterangannya, Selasa (22/7/2025).
Yang menarik dari kesepakatan ini, lanjut David, adalah pesan di baliknya: ketahanan energi, ketangguhan pertanian, dan akses terhadap mineral strategis.
"Ini bukan hanya soal tarif, tapi soal siapa yang akan menentukan arah rantai pasok global di masa depan," imbuh Barrett.
Ancaman Tarif, RI Sodorkan Solusi
Kesepakatan ini hadir di tengah rencana Washington memberlakukan tarif dasar 10% untuk seluruh impor, dengan tambahan 32% yang secara khusus dapat dikenakan pada produk ekspor dari Indonesia jika tak tercapai kesepakatan baru hingga 1 Agustus.
Produk yang terancam antara lain elektronik, pakaian, dan hasil manufaktur lain, membuat Jakarta mengambil langkah proaktif demi menjaga stabilitas perdagangan.
Salah satu poin paling signifikan dari paket ini adalah komitmen impor gandum senilai USD1,25 miliar.
Kesepakatan ini diharapkan menopang industri pengolahan makanan dan penggilingan tepung nasional.
Perusahaan lokal seperti FKS Group dan Sorini Agro Asia Corporindo ikut menandatangani kesepakatan bersama raksasa agribisnis AS, Cargill.
Di sektor energi, Pertamina meneken perjanjian pengadaan baru yang diperkirakan akan memengaruhi tolok ukur harga LPG di kawasan Asia-Pasifik.
Namun, analis mengingatkan agar harga pembelian tetap bersaing dibandingkan dengan pemasok saat ini, guna menghindari beban tambahan pada subsidi energi.
Nota kesepahaman yang diteken Pertamina mencakup peningkatan impor gas petroleum cair (LPG) dan bahan bakar olahan dari Amerika Serikat, sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk mendiversifikasi sumber energi dan memperkuat ketahanan pasokan nasional.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai manfaat dari impor ini harus ditimbang secara hati-hati terhadap kondisi pasokan dalam negeri.
Jika harga bahan bakar dari AS ternyata lebih tinggi dibandingkan pemasok lain, maka keseimbangan subsidi energi nasional bisa terganggu.
Imbangkan Defisit, Perkuat Posisi
Meski defisit perdagangan masih menjadi isu politik di AS, data dari Kantor Perwakilan Dagang AS menunjukkan bahwa pada 2024, defisit perdagangan barang dengan Indonesia mencapai USD 17,9 miliar, naik 5,4% dibanding tahun sebelumnya.
Ini memperlihatkan bagaimana Jakarta mulai mengambil pendekatan baru dalam merancang hubungan dagang global.
"Indonesia tidak lagi bermain di sisi defensif. Sekarang, kita tawar-menawar dari posisi yang kuat. Dalam konteks penataan ulang perdagangan global, AS butuh mitra mineral yang bisa diandalkan. Di situ letak kekuatan kartu Indonesia," ujar Barrett.
Di luar angka-angka besar, paket ini menandakan ambisi Indonesia untuk menjadi pemimpin dalam strategi perdagangan regional.
Pendekatannya jelas: mendukung ketahanan pangan dalam negeri, memperluas akses energi, dan mengamankan peran jangka panjang dalam rantai pasok global yang makin strategis. Di tengah sikap hati-hati negara tetangga, Jakarta tampil dengan tawaran konkret.
Momen Penentu Ekonomi ke Depan
Paket kerja sama ini bukan sekadar sinyal diplomatik. Dampaknya nyata bagi dalam negeri, yakni membuka peluang bagi petani dan pelaku industri pangan, memperkuat ketahanan energi nasional, serta menempatkan Indonesia sebagai aktor penting dalam ekspor mineral global.
Di sisi pasar, peningkatan impor produk pertanian dari AS diperkirakan akan mendorong harga gandum dan jagung, sekaligus mengubah alur distribusi gandum di kawasan Asia-Pasifik.
Untuk jangka panjang, Indonesia tengah memasang taruhan besar: bertransformasi dari eksportir komoditas mentah menjadi pemain manufaktur dan energi hijau bernilai tambah tinggi dalam rantai global.
Berrett mencatat setidaknya Indonesia bakal mendapatkan 3 manfaat strategis dalam jangka panjang lewat kesepakatan tarif Trump.
Pertama, mendukung ketahanan pangan nasional, dengan impor gandum senilai USD1,25 miliar untuk mendukung sektor pengolahan dalam negeri.
Kedua, memperkuat akses energi melalui kontrak baru Pertamina untuk bahan bakar dan LPG. Terakhir, menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra tepercaya dalam sektor mineral dan manufaktur, seiring upaya global untuk mengurangi ketergantungan pada China.