Kadin Apresiasi Tarif 19 Persen, Optimis Ekspor Tembus USD80 Miliar

AKURAT.CO Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan pemerintah dalam mencapai kesepakatan tarif impor sebesar 19% untuk produk Indonesia ke Amerika Serikat (AS).
Menurut Anindya atau akrab disapa Anin, capaian ini merupakan langkah positif yang bisa menjadi momentum penting dalam meningkatkan ekspor nasional ke pasar AS.
Anin menilai, tarif 19% yang disepakati merupakan hasil negosiasi yang cukup baik, terutama jika dibandingkan dengan beban tarif yang dikenakan kepada negara lain.
Dirinya menyoroti bahwa keberhasilan ini patut diapresiasi karena diraih di tengah kondisi neraca perdagangan Indonesia yang justru mengalami surplus terhadap Amerika Serikat.
Baca Juga: Kadin Gandeng IAPI Genjot Literasi Akuntansi dan Kepatuhan Pajak Pengusaha
“Pertama, selamat kepada pemerintah. Karena menurut saya, apa yang telah disepakati itu bagus untuk Indonesia,” ujar Anin dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (17/7/2025).
Dirinya juga menyebutkan bahwa tarif ini sebenarnya sudah termasuk kategori ringan di tengah situasi global yang menantang dan protektif.
Anin menjelaskan bahwa banyak pihak memang mempertanyakan kenapa tarif tidak bisa ditekan lebih rendah. Namun, ia menegaskan bahwa angka 19% ini masih jauh lebih baik dibandingkan negara lain seperti Meksiko yang dikenai tarif sebesar 35%, dan China yang mencapai 30%.
Sebaliknya, meski Inggris hanya dikenai 10%, namun negara tersebut mengalami defisit dalam neraca dagang dengan AS, berbeda dengan Indonesia yang mencatatkan surplus sekitar USD18 miliar.
“Memang banyak yang menanyakan, kenapa 19%? Tidak lebih rendah lagi. Tapi ini relatif daripada keadaan Indonesia saat ini,” imbuhnya.
Anin juga menekankan bahwa dalam posisi surplus perdagangan seperti sekarang, sangat mungkin tarif diberlakukan, dan angka 19% sudah lebih baik dari prediksi sebelumnya yang mencapai 32%.
Lebih lanjut, Anin melihat peluang besar dari kesepakatan ini dalam mendongkrak nilai perdagangan bilateral Indonesia-AS. Ia optimistis, dalam lima tahun ke depan, ekspor Indonesia ke pasar AS bisa meningkat dua kali lipat. Dari angka saat ini yang berada di kisaran USD40 miliar, Anin memperkirakan bisa menyentuh angka USD80 miliar.
Baca Juga: Kadin Gelar Retreat di Magelang, Bahas Strategi Capai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
“Kalau saya lihat, perdagangan yang tadinya 40 miliar dolar AS, dalam lima tahun bisa mencapai 80 miliar dolar AS,” ucap Anin.
Dirinya menegaskan pentingnya melihat peluang bukan hanya dari sisi kepentingan negara mitra, tetapi juga manfaat konkret yang bisa didapatkan oleh Indonesia sendiri.
Untuk menyambut peluang tersebut, Kadin berencana segera menggelar rapat koordinasi bersama pelaku industri nasional. Fokus utama akan diarahkan pada sektor-sektor unggulan seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan produk elektronik.
Anin menekankan perlunya kesiapan industri dalam negeri agar tidak kehilangan momentum akibat keterbatasan kapasitas produksi.
“Jangan sampai kita (sudah) mendapatkan suatu kemudahan, tiba-tiba malah dimanfaatkan negara lain yang biayanya lebih mahal hanya karena kita tidak siap,” tegasnya.
Menurut Anin, kesiapan industri domestik menjadi kunci agar manfaat perdagangan benar-benar dirasakan oleh sektor riil dalam negeri.
Kadin juga akan melakukan perhitungan strategis terkait kebutuhan investasi, potensi peningkatan perdagangan, hingga penciptaan lapangan kerja.
“Kita mau mencari tiga angka. Satu, berapa banyak investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas. Yang kedua, berapa banyak kita bisa meningkatkan perdagangan. Dan yang ketiga, berapa banyak lapangan kerja yang bisa diciptakan," pungkas Anin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










