Kevin Hassett Didorong Jadi Gubernur The Fed, Loyalitas Jadi Modal Utama

AKURAT.CO Sosok Kevin Hassett kian santer disebut sebagai calon kuat Gubernur Federal Reserve menggantikan Jerome Powell. Di balik dorongan tersebut, tampak jelas bahwa loyalitas terhadap Presiden Donald Trump menjadi modal utama dalam proses seleksi tersebut.
Berbeda dari pendahulunya di Dewan Ekonomi Nasional seperti Gary Cohn yang kerap mengkritik kebijakan dagang Trump, Hassett justru dikenal mendukung penuh arah ekonomi Trump mulai dari tarif impor, pemangkasan pajak, hingga tekanan terhadap The Fed.
“Dalam dunia Trump, kesetiaan adalah mata uang tertinggi. Siapa pun yang mampu bertahan di lingkaran Trump, artinya ia tahu bagaimana mengabdi, bukan sekadar memberi saran,” ujar Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Direktur Beacon Policy Advisors, Stephen Myrow dikutip dari laman Washington Post.
Hassett, lanjut Stephen, secara terbuka menyatakan bahwa independensi The Fed bisa dipertanyakan, terutama saat suku bunga tidak segera diturunkan menjelang pemilu.
"Meskipun sampai saat ini, Powell terlalu lambat menyesuaikan kebijakan moneter dengan dinamika global," paparnya.
Baca Juga: Dampak Tarif Masih Dikaji, The Fed Pertimbangkan Langkah Hati-hati
Oleh karena itu, tambahnya, jika benar dia (Kevin Hasset) dilantik, dirinya berpeluang besar merombak pendekatan konvensional The Fed terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Trump ingin suku bunga rendah demi menurunkan biaya utang pemerintah. Namun, pendekatan ini berisiko mendorong inflasi jika tak dikendalikan.
“Gubernur bank sentral bukan hanya eksekutor kebijakan. Ia juga penjaga stabilitas. Dan stabilitas tak bisa dibeli dengan loyalitas,” katanya.
Hassett saat ini berada di posisi strategis, berkantor hanya beberapa meter dari Oval Office. Ia juga sering terlibat langsung dalam diskusi kebijakan dengan Trump. Dengan akses tersebut, peluangnya untuk mendapatkan jabatan Gubernur The Fed kian besar.
Namun, sejumlah ekonom memperingatkan, jika The Fed sepenuhnya tunduk pada agenda presiden, pasar keuangan global bisa kehilangan kepercayaan pada arah kebijakan moneter AS. Imbasnya, nilai tukar dolar bisa tertekan dan arus modal keluar dari pasar keuangan domestik.
Baca Juga: The Fed Beri Sinyal Dua Kali Pemangkasan Suku Bunga, Tarif Jadi Variabel Kunci
Dengan rencana Trump untuk mencalonkan kembali diri dalam pemilu 2028, penunjukan tokoh loyalis seperti Hassett tak hanya soal ekonomi, tapi juga soal kekuasaan dan arah masa depan kebijakan keuangan negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










