Akurat

Mengenal Inflasi dan Deflasi serta Dampaknya ke Perekonomian

M. Rahman | 6 Juli 2025, 17:27 WIB
Mengenal Inflasi dan Deflasi serta Dampaknya ke Perekonomian

AKURAT.CO Sobat Akurat, pernahkan Kamu berpikir seberapa besar dampak inflasi atau deflasi bagi kehidupan pribadi kalian?

Laju inflasi yang ideal (sesuai target nasional di 2025 dalam kisaran sasaran 2,5±1%) menunjukkan aktivitas ekonomi yang berjalan normal, yakni produsen tetap memperoleh keuntungan dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Seperti organ-organ tubuh (jantung, paru-paru, dan otak) yang bisa dianalogikan sebagai sektor penting ekonomi (industri, keuangan, konsumsi rumah tangga), inflasi atau dianalogikan seperti aliran darah harus mengalir dengan laju yang terkendali agar semuanya tetap tumbuh seimbang.

Jiika darah mengalir terlalu deras (hiperdinamik), bisa menimbulkan tekanan darah tinggi. Inflasi yang terlalu tinggi membuat harga-harga melambung, daya beli masyarakat turun, dan terjadi ketidakstabilan.

Sebaliknya, darah yang mengalir terlalu lambat menyebabkan organ kekurangan oksigen. Hal ini seperti inflasi terlalu rendah atau deflasi, yang bisa mengindikasikan penurunan permintaan dan pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Menkeu Bantah Deflasi Mei 2025 0,37 Persen Karena Penurunan Daya Beli

Jadi, sama seperti menjaga tekanan darah agar tetap normal, pemerintah dan bank sentral melalui Tim Pengendalian Pusat dan Daerah (TPIP-TPID) berusaha menjaga agar tingkat inflasi tetap stabil dan sehat bagi perekonomian. Yuk, pahami lebih lanjut apa itu inflasi dan deflasi, penyebabnya, dan dampaknya bagi kita semua.

Pengertian Inflasi dan Deflasi

Mengutip laman resmi BI, Minggu (6/7/2025), inflasi adalah kondisi ketika harga-harga barang dan jasa secara umum naik dari waktu ke waktu. Artinya, uang yang kita pegang nilainya menurun—dengan jumlah uang yang sama, kita bisa membeli lebih sedikit barang.

Bayangkan Kamu pergi ke toko kelontong dan menyadari bahwa sekantong beras yang tahun lalu seharga Rp6.500 per liter sekarang menjadi Rp18.500 per liter. Hal ini berarti nilai uang menurun; Kamu membutuhkan lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama.

Deflasi, di sisi lain, adalah kondisi ketika harga-harga barang dan jasa justru turun secara terus-menerus dalam suatu periode waktu. Menggunakan contoh toko kelontong yang sama, minggu ini harga beras Rp18.500 per liter.

Tapi minggu depan turun jadi Rp16.500 per liter, lalu turun lagi jadi Rp15.000 per liter di minggu berikutnya. Karena tahu harga terus menurun, kamu jadi menunda belanja, dan berharap minggu depan lebih murah lagi.

Tapi apa dampaknya? penjual kehilangan pendapatan karena pembeli menunda belanja, stok menumpuk karena barang tidak laku, supplier mengurangi produksi, bahkan bisa terjadi PHK, dan akhirnya, ekonomi melambat karena uang tidak berputar.

Jadi, meskipun harga murah terlihat menyenangkan, deflasi yang tidak terkendali dan berkelanjutan bisa melemahkan usaha kecil seperti toko kelontong, dan memperlambat ekonomi secara keseluruhan.

Penyebab Inflasi dan Deflasi

Agar lebih mudah memahami penyebab naik-turunnya inflasi, para ahli ekonomi memecah inflasi ke dalam beberapa kelompok. Itulah yang disebut disagregasi inflasi. Jadi, disagregasi inflasi adalah cara memecah total inflasi menjadi kelompok-kelompok jenis barang/jasa agar kita tahu “Harga apa sih yang bikin inflasi naik?” atau “Kenapa harga tiba-tiba melonjak?”

Untuk memahami lebih dalam, mari kita bedah 3 penyebabnya. Pertama, Inflasi Inti (Core Inflation). Inflasi inti adalah komponen inflasi yang paling stabil dan mencerminkan dinamika ekonomi jangka menengah. Angka ini dihitung dengan mengecualikan komponen volatile seperti makanan dan energi, serta harga yang diatur pemerintah.

Mengapa demikian? Karena harga makanan dan energi seringkali dipengaruhi oleh faktor musiman atau guncangan pasokan yang sifatnya sementara, adapun harga yang diatur pemerintah tidak sepenuhnya mencerminkan mekanisme pasar.

Inflasi inti memberikan gambaran yang lebih jelas tentang tren inflasi yang mendasari dan tekanan permintaan dalam perekonomian. Contohnya: biaya kontrakan rumah, biaya pendidikan, harga pakaian, layanan salon atau potong rambut, dsb

Kedua, Harga Berdasarkan Makanan Bergejolak (Volatile Food). Komponen volatile food merujuk pada kelompok bahan makanan yang harganya sangat mudah berfluktuasi. Kenaikan atau penurunan harga pada kelompok ini seringkali disebabkan oleh faktor-faktor seperti kondisi cuaca, musim panen, gangguan distribusi, atau bahkan serangan hama.

Karena sifatnya yang tidak stabil, perubahan harga pada volatile food bisa memberikan dampak signifikan pada inflasi dalam jangka pendek, namun seringkali tidak mencerminkan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Contohnya : Cabai, Bawang merah, Ikan laut, Beras, dsb

Ketiga, Harga yang Ditetapkan Pemerintah (Administered Prices). Administered prices adalah harga barang dan jasa yang penetapannya diatur atau ditentukan oleh pemerintah, bukan sepenuhnya oleh mekanisme pasar. Contohnya termasuk tarif listrik, harga bahan bakal minyak (BBM) bersubsidi, tarif angkutan umum, atau harga air.

Perubahan pada administered prices biasanya dilakukan untuk tujuan kebijakan tertentu, seperti menjaga stabilitas fiskal, mengendalikan konsumsi, atau memastikan ketersediaan pasokan. Meskipun tidak murni berdasarkan permintaan dan penawaran pasar, perubahan pada harga-harga ini tetap memiliki dampak langsung pada tingkat inflasi umum.

Dampak Dari Inflasi dan Deflasi

Dam​pak Inflasi

Inflasi dapat memiliki berbagai efek pada ekonomi, dan dampaknya bisa positif maupun negatif tergantung pada tingkat dan konteks inflasi. Dampak pertama, Erosi Daya Beli. Salah satu efek langsung dari inflasi adalah erosi daya beli. Ini berarti bahwa ketika harga naik, jumlah uang yang sama akan membeli lebih sedikit barang maupun jasa. Misalnya, jika inflasi adalah 3% per tahun, sesuatu yang harganya Rp100.000 hari ini akan menjadi Rp103.000 tahun depan. Seiring waktu, ini dapat secara signifikan mengurangi nilai tabungan jika bunga yang diperoleh dari tabungan tidak mengikuti laju inflasi.

Dampak kedua, Penyesuaian Upah. Sebagai respons terhadap kenaikan harga, karyawan sering menuntut upah yang lebih tinggi. Meskipun ini dapat membantu mempertahankan daya beli mereka, ini juga dapat menyebabkan efek spiral upah-harga, di mana upah yang lebih tinggi menyebabkan biaya yang lebih tinggi bagi bisnis, yang pada gilirannya menaikkan harga lebih lanjut.

Dampak ketiga, Menghambat Investasi Produktif. Inflasi yang tinggi dan tidak dapat diprediksi dapat menciptakan ketidakpastian, membuat bisnis lebih sulit untuk merencanakan masa depan. Ketidakpastian ini dapat mengurangi investasi dalam proyek baru dan ekspansi, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Dampak Deflasi

Meskipun deflasi mungkin terdengar menguntungkan karena berarti harga lebih rendah, deflasi dapat memiliki beberapa efek buruk pada ekonomi. Dampak pertama, Penundaan Konsumsi dan Investasi. Ketika harga turun, konsumen dan bisnis mungkin menunda pengeluaran dan investasi, mengharapkan harga turun lebih lanjut. Ini dapat menyebabkan permintaan yang lebih rendah, produksi yang berkurang, dan pengangguran yang lebih tinggi, menciptakan siklus yang sulit diatasi.

Dampak kedua, Kekakuan Upah. Deflasi juga dapat menyebabkan kekakuan upah, di mana upah tidak turun secepat harga. Ini dapat meningkatkan pengangguran, karena bisnis mengurangi pekerjaan untuk mengurangi biaya ketika mereka tidak dapat menurunkan upah.

Dampak ketiga, Stagnasi Ekonomi. Deflasi yang berkepanjangan dapat menyebabkan stagnasi ekonomi. Jepang mengalami ini pada tahun 1990-an, periode yang sering disebut sebagai "Dekade yang Hilang" di mana deflasi yang terus-menerus menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lambat dan pengangguran yang tinggi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa