ECB Dinilai Perlu Stimulus Tambahan, Ekonomi Zona Euro Masih Lemah

AKURAT.CO Ekonomi zona euro dinilai masih membutuhkan dukungan stimulus lanjutan agar dapat mencapai stabilitas inflasi dan pertumbuhan yang seimbang. Hal ini disampaikan Anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB), Mario Centeno, dalam wawancaranya bersama surat kabar La Stampa Italia pada akhir pekan lalu.
Menurut Centeno, kondisi ekonomi saat ini belum berada dalam posisi ideal untuk mencapai target inflasi 2 persen yang telah ditetapkan ECB.
“Tingkat suku bunga harus mencerminkan kondisi ekonomi yang mendukung inflasi stabil. Namun kenyataannya, zona euro belum sampai di titik tersebut,” ujarnya dikutip dari laman reuters.
Baca Juga: ECB Pangkas Suku Bunga Lagi, Zona Euro Mulai Ketar Ketir?
Centeno menambahkan bahwa masih terdapat kesenjangan signifikan antara produk domestik bruto (PDB) aktual dengan potensi ekonomi yang sesungguhnya.
Hal itu menunjukkan bahwa kawasan tersebut belum kembali ke keseimbangan, dan oleh karena itu, stimulus fiskal maupun moneter tetap diperlukan.
“Jika suku bunga netral berada di angka 2 persen, tetapi kesenjangan output masih negatif, maka suku bunga idealnya harus di bawah angka tersebut untuk mendorong ekonomi kembali ke jalur yang semestinya,” jelas Gubernur Bank Sentral Portugal itu.
Meski ECB telah memangkas suku bunga sebanyak delapan kali, sejumlah analis memperkirakan kebijakan moneter mungkin akan ditahan sementara dalam pertemuan dewan yang dijadwalkan berlangsung 24 Juli mendatang.
Sebagian pejabat ECB bahkan menyebut siklus pelonggaran saat ini mungkin telah mencapai batasnya.
Baca Juga: Bos ECB Desak Eropa Perkuat Integrasi Perdagangan
Di tengah tekanan global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan ECB menjadi krusial dalam menentukan laju pemulihan ekonomi kawasan. Dengan permintaan yang lemah dan inflasi yang belum stabil, ketergantungan zona euro terhadap intervensi moneter masih tinggi.
Analis memperingatkan bahwa keputusan untuk menahan atau melanjutkan stimulus akan bergantung pada perkembangan indikator ekonomi jangka pendek serta potensi gangguan dari sektor eksternal, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah yang dapat memicu tekanan inflasi tambahan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK







