Tarif Tinggi Trump Ancam Ekonomi AS, Potensi Resesi Membayangi

AKURAT.CO Kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan Presiden Donald Trump diperkirakan akan menekan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) secara signifikan, dengan ancaman resesi semakin nyata.
Berdasarkan survei terbaru Bloomberg terhadap 82 ekonom, pertumbuhan ekonomi AS tahun ini diprediksi hanya sebesar 1,4%, jauh melambat dibandingkan perkiraan bulan lalu sebesar 2%.
Para ekonom menilai bahwa penerapan tarif hingga 145% terhadap China serta bea masuk minimum 10% terhadap sebagian besar negara lain menyebabkan harga barang-barang naik tajam, menurunkan belanja konsumen, dan memperburuk sentimen bisnis.
Sehingga mengakibatkan, median responden dalam survei Bloomberg kini melihat peluang penurunan ekonomi sebesar 45% dalam 12 bulan ke depan, naik drastis dari 30% pada Maret lalu.
Baca Juga: Pemerintah Sudah Siapkan Langkah Strategis untuk Negosiasi Tarif dengan Amerika Serikat
"Kemajuan pertumbuhan ekonomi membutuhkan penyelesaian perang dagang yang cepat dan pembaruan kepercayaan terhadap kebijakan AS," ujar ekonom senior Deutsche Bank AG, Brett Ryan,
Dampak tarif juga, lanjutnya, membuat IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global. IMF memperingatkan bahwa kebijakan tarif yang tetap diberlakukan dapat menyeret pertumbuhan ekonomi dunia lebih rendah, memperparah ketidakpastian global.
Meski administrasi Trump telah memberikan jeda 90 hari untuk beberapa tarif, tingkat tarif efektif di AS saat ini hampir mencapai 23% tertinggi dalam lebih dari satu abad. Tentunya hal Ini berdampak langsung terhadap permintaan rumah tangga, yang merupakan penyumbang terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) AS.
Selain itu, para ekonom juga memperkirakan bahwa inflasi akan meningkat, dengan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) diproyeksikan memuncak di 3,2% pada akhir 2025. Kenaikan inflasi ini mengurangi ruang gerak Federal Reserve untuk memangkas suku bunga demi merangsang pertumbuhan.
"Sejak tarif naik, hambatan untuk memangkas suku bunga menjadi lebih besar, karena inflasi tetap tinggi," ujar ekonom Comerica Bank, Bill Adams dan Waran Bhahirethan.
Baca Juga: Tarif Impor Trump Picu Reaksi Global: 50 Negara Berebut Negosiasi Dagang dengan Amerika Serikat
Sementara pasar tenaga kerja masih tampak kokoh untuk sementara waktu, tingkat pengangguran diprediksi naik menjadi 4,6% pada akhir 2025. Biro Analisis Ekonomi dijadwalkan merilis estimasi awal PDB kuartal pertama pada 30 April mendatang, yang akan menjadi penentu arah kebijakan ekonomi AS berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










