Kala IMF-WB Ramal Pertumbuhan RI di Bawah 5%, Nasib Target Ekonomi Indonesia Hingga 8% Bagaimana?

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka telah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada tahun 2029.
Target ini dicanangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dan menjadi pijakan utama ambisi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju pada 2045.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan jalan terjal. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) dalam laporan terakhir mereka, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 hanya akan berada di kisaran 4,9% hingga 5,1%. Prediksi tersebut tentunya mengundang pertanyaan besar, apakah target 8% realistis di tengah kondisi global yang tidak menentu?
Baca Juga: IMF Puji Perekonomian Negara Asia, Fundamental Lebih Tangguh
Mengutip Reuters, IMF menyatakan bahwa tekanan eksternal seperti perlambatan perdagangan global, penurunan harga komoditas, dan ketegangan geopolitik dunia, termasuk perang dagang AS-China yang kembali memanas, akan menahan laju pertumbuhan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dimana dalam laporan World Economic Outlook yang dirilis IMF pada April 2025, disebutkan bahwa ekonomi Indonesia diproyeksikan hanya tumbuh sebesar 5,1% di tahun depan.
Sedangkan Bank Dunia dalam Indonesia Economic Prospects edisi Maret 2025 bahkan lebih pesimistis, memperkirakan pertumbuhan sebesar 4,9%. Keduanya sepakat bahwa ada beberapa faktor utama yang menjadi kendala pertumbuhan Indonesia, yaitu, Lemahnya Permintaan Global. Dimana ekspor Indonesia masih bergantung pada komoditas primer seperti batubara, minyak sawit (CPO), dan karet. Bahkan perlambatan ekonomi global menyebabkan permintaan terhadap produk-produk ini menurun.
Kemudian, suku bunga tinggi di negara-negara maju membuat arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi lebih terbatas. ditambah dengan perubahan kebijakan drastis pasca pemilu menimbulkan kehati-hatian di kalangan investor. Sementara konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama, daya beli masyarakat menurun akibat inflasi tinggi.
Baca Juga: IMF Dorong Bank Sentral di Asia Turunkan Suku Bunga
Tidak sampai disitu saja, IMF juga memperingatkan bahwa pengeluaran rumah tangga Indonesia mulai menunjukkan pelemahan, seiring dengan harga pangan dan energi yang fluktuatif.
Tantangan Berat di Depan Mata
Perang dagang terbaru yang dilancarkan Presiden Donald Trump terhadap China, dengan tarif impor tambahan hingga 145%, menjadi ancaman besar bagi perekonomian global.
Menurut laporan Bloomberg, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat ke angka 2,5% tahun ini, level terendah sejak krisis keuangan 2008.
Indonesia, sebagai negara dengan perekonomian terbuka, pasti akan terkena imbasnya. Menurunnya permintaan dari China selaku mitra dagang utama Indonesia akan berdampak pada ekspor komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan logam dasar.
Kemudian menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), target realisasi investasi sebesar Rp13.528 triliun dalam lima tahun mendatang menjadi syarat mutlak untuk mencapai pertumbuhan 8%. Namun, tantangan besar membayangi:
Jalan Menuju Target 8%: Apa yang Perlu Dilakukan?
Beberapa langkah konkret yang perlu ditempuh Indonesia antara lain:
1. Meningkatkan Kualitas SDM:
Pendidikan vokasional dan pelatihan teknis berbasis kebutuhan industri harus menjadi prioritas nasional.
2. Mendorong Ekspor Berbasis Teknologi Tinggi:
Diversifikasi ekspor harus dilakukan ke sektor berbasis teknologi dan manufaktur berteknologi tinggi, bukan lagi hanya komoditas primer.
3. Mempercepat Reformasi Struktural:
Deregulasi sektor jasa, penguatan perbankan, dan reformasi fiskal untuk memperluas basis pajak dan meningkatkan ruang fiskal.
4. Penguatan UMKM dan Ekonomi Lokal:
UMKM harus didorong naik kelas melalui digitalisasi, akses pembiayaan, dan integrasi ke rantai pasok global.
5. Stabilitas Politik dan Kepastian Hukum:
Investor membutuhkan kepastian hukum dan perlindungan atas hak properti. Reformasi hukum menjadi kunci penting.
6. Mendorong Investasi Hijau:
Indonesia perlu mengembangkan proyek energi baru terbarukan dan mempercepat transisi ke ekonomi rendah karbon, sejalan dengan tren investasi global.
Mimpi Besar, Kerja Lebih Keras
Mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 adalah ambisi besar yang membutuhkan kerja keras ekstra, kebijakan yang konsisten, serta keberanian melakukan reformasi struktural yang berani.
Kondisi global yang penuh ketidakpastian, tantangan domestik yang kompleks, dan proyeksi konservatif dari lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia menjadi sinyal bahwa jalan menuju 8% tidak akan mudah. Namun, dengan tekad politik yang kuat, kerja sama sektor swasta, dan adaptasi kebijakan yang lincah, peluang untuk mewujudkan mimpi besar tersebut tetap terbuka.
Indonesia punya potensi. Tapi potensi saja tidak cukup. Hanya dengan transformasi nyata, mimpi besar itu bisa menjadi kenyataan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










