Ekspor Daging Babi AS Terpukul, China Batalkan Pesanan Terbesar Sejak 2020

AKURAT.CO Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali alami kerugian signifikan. Dimana kali ini sektor ekspor daging babi AS menjadi sasaran balasan tarif dari Beijing.
Mengacu kepada hasil data Departemen Pertanian AS (USDA), China telah membatalkan pesanan sebesar 12.000 metrik ton daging babi, jumlah tertinggi sejak tahun 2020 saat pandemi Covid-19 mengguncang rantai pasokan global.
Selama sepekan terakhir, ekspor daging babi AS mengalami penurunan drastis dan mencapai titik terendah sejak Oktober. Kondisi ini membuat para pelaku industri peternakan semakin cemas akan keberlangsungan bisnis mereka di tengah ketidakpastian kebijakan luar negeri.
“Tarif balasan dari China telah membuat harga daging babi AS tidak kompetitif di pasar global,” ujar perwakilan Federasi Ekspor Daging AS dikutip dari laman reuters.
Baca Juga: Perang Dagang AS-China Bayangi Ekonomi Indonesia, BI dan IMF Kompak Prediksi Perlambatan
Menurut organisasi tersebut, kombinasi tarif yang diberlakukan China sejak perang dagang pertama pada 2018 hingga kebijakan terbaru Trump membuat total bea masuk terhadap produk daging babi AS mencapai 172%.
Akibat kondisi tersebut, harga daging babi tanpa lemak di Chicago sempat anjlok hingga 1,6% sebelum kembali sedikit pulih. Para analis pasar memperkirakan tren penurunan akan terus berlanjut seiring berpindahnya minat pembeli China ke negara pemasok lain seperti Brasil yang tidak terkena tarif serupa.
“Brasil kini menjadi alternatif utama bagi China. Jika tren ini terus berlangsung, AS bisa kehilangan pangsa pasar secara permanen,” jelas analis pertanian David Champbell dari Rabobank.
Langkah pembatalan pesanan oleh China, lanjutnya, tidak hanya berdampak pada harga pasar, tetapi juga pada peternak lokal yang mengandalkan ekspor untuk mempertahankan usahanya.
"Banyak yang kini mulai menekan pemerintah AS untuk mencari solusi diplomatik yang lebih stabil dalam menjalin hubungan dagang dengan Beijing," paparnya.
Baca Juga: China Tunggu Langkah Nyata AS, Peluang Dialog Masih Terbuka
Sehingga kondisi tersebut menunjukkan bahwa perang dagang yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada neraca perdagangan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan petani dan produsen di lapangan.
"Sebab apabila hal tersebut tidak segera diatasi, kerugian bisa meluas ke sektor pertanian lain yang juga bergantung pada pasar ekspor," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 8Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






