China Tunggu Langkah Nyata AS, Peluang Dialog Masih Terbuka

AKURAT.CO Pemerintah China bersikap hati-hati menanggapi sinyal perubahan sikap dari Presiden AS Donald Trump dalam perundingan dagang.
Meskipun Trump menyatakan akan bersikap sangat baik terhadap China dan membuka kemungkinan penurunan tarif, Beijing belum mengeluarkan pernyataan resmi, menandakan pendekatan yang penuh perhitungan dari pihak China.
Dikutip dari laman Reuters, Beijing tetap membuka peluang dialog, namun dengan syarat-syarat tertentu.
“Kami ingin melihat konsistensi dari pihak AS. Pernyataan Trump memang positif, tetapi dibutuhkan tindakan nyata untuk membuktikan keseriusan mereka,” ujar sumber tersebut yang tak ingin disebutkan namanya.
Baca Juga: Trump Mulai Melunak ke China, Sinyal Baru Perang Dagang Mereda?
China menuntut agar AS menahan diri dari komentar-komentar provokatif, terutama dari anggota kabinet Trump yang kerap meremehkan China.
Salah satunya adalah pernyataan Wakil Presiden JD Vance yang menyebut petani China dengan nada merendahkan, yang menuai kritik keras dari para diplomat Beijing.
Selain itu, isu sensitif seperti Taiwan dan sanksi sepihak dari AS menjadi perhatian utama Beijing.
“Kesepakatan hanya bisa dicapai jika AS bersedia berdialog secara setara dan mengakomodasi kekhawatiran kami,” tambahnya.
Beijing juga ingin agar perundingan dilakukan oleh pihak yang mendapat mandat penuh dari Trump. Sosok tersebut harus memiliki otoritas untuk merumuskan kesepakatan yang nantinya bisa ditandatangani oleh kedua kepala negara.
Hal ini berkaca dari pengalaman sebelumnya di mana pembicaraan kerap mandek karena ketidakkonsistenan posisi AS.
Baca Juga: Prabowo dan Wakil PM Malaysia Bahas Tarif Trump hingga Kemerdekaan Palestina
Di tengah ketegangan ini, langkah Gedung Putih yang baru-baru ini meluncurkan situs web yang menuding Covid-19 berasal dari laboratorium di China dinilai kontraproduktif.
Meski Trump menyatakan tidak akan menyinggung isu ini dalam diskusi dengan Xi Jinping, luka diplomatik yang ditimbulkan masih terasa.
Namun demikian, pengamat menilai bahwa peluang dialog masih terbuka. Komentar Trump yang lebih moderat dianggap sebagai bentuk tekanan ekonomi domestik dan keinginan untuk stabilisasi pasar menjelang masa pemilihan.
“Ini bukan soal kebaikan hati semata, tapi kalkulasi politik dan ekonomi. China bersikap realistis. Jika ada jaminan bahwa perundingan dilakukan secara profesional dan berkomitmen, Beijing tentu akan mempertimbangkannya," ujar analis geopolitik dari Tsinghua University, Li Cheng.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 9Menag Pimpin Salat Jenazah, Rano Karno Sampaikan Pesan Keluarga untuk Guruh Soekarnoputra
- 10Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla









