Akurat

Sri Mulyani Sebut Tarif Trump Tak Berlandaskan Ilmu Ekonomi

Camelia Rosa | 8 April 2025, 17:11 WIB
Sri Mulyani Sebut Tarif Trump Tak Berlandaskan Ilmu Ekonomi

AKURAT.CO Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani mengaku tidak memahami dasar pengenaan tariff resiprokal atau tarif timbal balik yang dikenakan Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia. 

"Tarif resiprokal yang disampaikan oleh Amerika terhadap 60 negara menggambarkan cara penghitungan tarif tersebut, yang saya rasa semua ekonom yang sudah belajar ekonomi tidak bisa memahami," jelasnya dalam acara Sarasehan Ekonomi yang digelar oleh Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian di Menara Mandiri, Jakarta hari ini, Selasa (8/4/2025). 
 
Oleh karena itu dirinya berpendapat bahwa Trump tidak lagi menggunakan ilmu ekonomi dalam mengambil keputusan tersebut.
 
 
"Jadi ini juga sudah tidak berlaku lagi ilmu ekonomi, yang penting pokoknya tarif duluan karena tujuannya adalah menutup defisit. Tidak ada ilmu ekonominya di situ, menutup defisit itu artinya saya tidak ingin tergantung atau beli kepada orang lain lebih banyak dari apa yang saya bisa jual kepada orang lain itu. Its purely transactional, tidak ada landasan ilmu ekonominya," tuturnya. 
 
Kendati demikian, Bendahara Negara itu menekankan bahwa kebijakan tarif impor yang dikenakan Trump ini tetap perlu segera diantisipasi. Pasalnya, kebijakan tersebut berpotensi memicu perang dagang yang mengganggu pertumbuhan ekonomi dunia.
 
"Jadi ini adalah situasi yang harus kita hadapi secara sangat open minded, pragmatik dan pada saat yang sama kita harus cepat," urainya.
 
Sri menambahkan, pemerintah sendiri sejatinya telah memilih jalur negosiasi daripada melakukan perlawanan seperti China dan Uni Eropa. Katanya, strategi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mencari peluang ekspor baru ke pasar AS.
 
Ia juga menilai, strategi negosiasi ini banyak ditempuh oleh berbagai negara meskipun hasil dari negosiasi tarif impor itu memang tidak selamanya akan menyenangkan.
 
"Jadi berbagai negara yang lain mungkin lebih kepalanya dingin dengan pendekatan diplomasi dan negosiasi. Tapi it's not necessarily karena hasilnya juga bisa tidak menyenangkan," tandas Menkeu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.