Trump Tebar Teror Dagang! Vietnam-Kamboja Digilas, China Malah Aman?

AKURAT.CO Kebijakan tarif tinggi yang baru saja diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali menimbulkan tanda tanya besar. Kali ini, dua negara Asia Tenggara, Vietnam dan Kamboja, menjadi sasaran utama kenaikan tarif yang cukup mencolok.
Padahal, jika melihat data perdagangan yang selama ini digaungkan oleh Trump, negara yang selama ini dianggap paling merugikan AS justru adalah China dan Uni Eropa (UE).
Mengutip dari laman reuters, Trump menjelaskan Vietnam dikenakan tarif hingga 90%, meskipun setelah ada diskon reciprocal, angkanya turun menjadi 46%. Sementara itu, Kamboja lebih parah lagi hampir 100% atau sekitar 97%, lalu mendapat diskon reciprocal menjadi 49%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan tarif yang dikenakan pada negara lain, termasuk China dan UE.
Banyak analis perdagangan bertanya-tanya, apa alasan di balik keputusan Trump tersebut? Seharusnya, jika mengacu pada neraca perdagangan AS, tarif tertinggi justru lebih masuk akal jika dikenakan pada China dan UE. Kedua wilayah tersebut selama bertahun-tahun menjadi penyumbang utama defisit perdagangan AS.
Baca Juga: Indonesia Kena Tarif Trump, Kadin: Kita Masih Bisa Negosiasi!
Analis koresponden dari TheGuardian, Richard Partington menjelaskan mengungkapkan bahwa apabila dilihat dari logika dasar ekonomi, maka tarif tertinggi seharusnya dikenakan ke negara-negara yang menyebabkan defisit perdagangan terbesar buat Amerika.
"Kalau dilihat dari logika ekonomi, tarif tinggi seharusnya dikenakan ke negara yang menyebabkan defisit perdagangan terbesar buat AS. Dalam hal ini, China dan Uni Eropa adalah kandidat yang paling jelas," ucapnya dikutip dari laman The Guardian.
Namun, lanjutnya, yang terjadi justru sebaliknya. Vietnam dan Kamboja, yang sebenarnya memiliki hubungan dagang cukup baik dengan AS, malah menjadi target utama kebijakan tarif ini.
Oleh karena itu, Partington melihat bahwa keputusan tersebut bisa jadi lebih bersifat strategi politik ketimbang ekonomi murni.
Trump memang dikenal sering menggunakan kebijakan tarif sebagai alat tekanan terhadap negara-negara tertentu. Bisa jadi, Vietnam dan Kamboja dianggap sebagai negara yang lebih lemah secara politik dan ekonomi, sehingga lebih mudah ditekan dibandingkan China atau Uni Eropa.
"Trump mungkin melihat China dan UE sebagai lawan yang lebih sulit. Kalau mereka dikenakan tarif tinggi, balasan mereka bisa lebih agresif, seperti pembatasan impor produk AS atau langkah-langkah lain yang merugikan ekonomi Amerika," katanya lagi.
Baca Juga: Tidak Terima kena Tarif Trump, Uni Eropa Siapkan Serangan Balasan ke Amerika Serikat
Selain itu, ada juga dugaan bahwa tarif tinggi ini bukan hanya soal dagang, tapi juga terkait dengan persaingan geopolitik di Asia Tenggara.
"AS ingin tetap menjaga pengaruhnya di kawasan ini, terutama di tengah ekspansi besar-besaran China melalui proyek-proyek infrastrukturnya," paparnya.
Bagi Vietnam dan Kamboja, kenaikan tarif ini jelas menjadi pukulan telak. Kedua negara ini selama beberapa tahun terakhir menikmati pertumbuhan ekspor yang pesat ke AS, terutama di sektor tekstil, alas kaki, dan elektronik. Dengan tarif yang melonjak drastis, daya saing produk mereka di pasar AS bisa terancam.
"Kalau tarif terus setinggi ini, banyak pabrik yang bisa kehilangan pelanggan dari AS. Akibatnya, ekonomi Vietnam dan Kamboja bisa terganggu, bahkan berujung pada peningkatan pengangguran," ujarnya.
Sementara itu, beberapa perusahaan multinasional yang sebelumnya memindahkan produksinya dari China ke Vietnam untuk menghindari tarif tinggi AS, kini harus berpikir ulang. Jika tarif ini bertahan lama, bisa jadi mereka akan mencari negara lain sebagai basis produksi.
Menariknya, meski AS selama ini sering menyoroti China dan UE sebagai "musuh dagang utama", kedua wilayah ini justru relatif aman dari kebijakan tarif terbaru ini. China, yang sebelumnya sudah terkena perang dagang dengan AS, kemungkinan besar akan tetap mencari cara untuk mengurangi dampak negatifnya.
Uni Eropa sendiri punya posisi negosiasi yang lebih kuat. Dengan ekonomi yang besar dan pasar yang luas, mereka bisa memberikan tekanan balik yang cukup kuat jika AS mencoba menaikkan tarif terhadap produk mereka.
Kenaikan tarif terhadap Vietnam dan Kamboja menimbulkan banyak spekulasi. Secara ekonomi, langkah ini terasa tidak masuk akal, karena China dan UE lebih layak dikenakan tarif tinggi jika berbicara soal defisit perdagangan AS.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang politik dan strategi dagang global, keputusan ini bisa jadi merupakan bagian dari strategi Trump untuk menekan negara-negara yang dianggap lebih mudah dikendalikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










