Tidak Terima kena Tarif Trump, Uni Eropa Siapkan Serangan Balasan ke Amerika Serikat

AKURAT.CO Ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan tarif besar-besaran terhadap negara-negara mitra dagang, termasuk UE.
Pengenaan tarif tersebut bagi Trump merupakan salah satu upaya membongkar sistem perdagangan global yang dianggap tidak adil, dengan Trump menetapkan tarif 20% untuk impor dari UE yang akan berlaku mulai 9 April.
Tidak hanya itu, Trump juga memberlakukan tarif lebih dari 50% untuk barang-barang asal China.
Dikutip dari laman Reuters, Trump menyebut UE merupakan salah satu organisasi negara yang sudah menipu AS, sehingga pada akhirnya memicu reaksi keras dari pihak Eropa.
Baca Juga: Uni Eropa Izinkan Perangkat Tanpa Port, Apple Bisa Kembangkan iPhone Nirkabel
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dalam pidato videonya pada Kamis (3/4/2025) lalu, menyatakan bahwa keputusan Trump adalah pukulan besar bagi ekonomi global.
"Kami sedang mempersiapkan tindakan balasan lebih lanjut untuk melindungi kepentingan dan bisnis kami jika negosiasi gagal," tegasnya.
Tarif Trump: Ancaman atau Sekadar Strategi Negosiasi?
Kebijakan tarif yang diterapkan oleh AS bukanlah hal baru. Trump telah lama mengkritik sistem perdagangan global yang menurutnya merugikan Amerika.
Melalui pemberlakuan tarif tinggi, Trump berharap dapat menekan mitra dagangnya untuk memberikan kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi AS.
Namun tampaknya UE tidak akan tinggal diam. Dikutip dari laman Bloomberg, Ini Eropa dikabarkan telah menyiapkan serangkaian langkah balasan hingga EUR26 miliar (USD28,1 miliar) yang dijadwalkan akan berlaku pertengahan April.
Baca Juga: RI Kena Tarif Trump, Kemenko Perekonomian Buka Suara
Nantinya, UE kemungkinan akan mencoba menegosiasikan kesepakatan terlebih dahulu, tetapi jika tidak berhasil, mereka siap membalas.
Usut punya usur, langkah tersebut mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat antara kedua kekuatan ekonomi ini. Bahkan, UE disebut-sebut memiliki banyak kartu untuk dimainkan, termasuk menargetkan perusahaan teknologi.
Dampak Ekonomi Global
Dengan AS dan UE saling menaikkan tarif, dampaknya terhadap ekonomi global sulit dihindari.
Bank Sentral Eropa (ECB) sebelumnya memproyeksikan ekspansi ekonomi kawasan euro untuk tahun ini dan tahun depan, namun langkah Trump ini bisa menghapus sebagian besar pertumbuhan tersebut.
Inflasi juga menjadi perhatian utama, karena harga barang impor yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya hidup masyarakat Eropa.
Selain itu, kebijakan ini juga bisa menghambat pemulihan ekonomi yang masih rapuh pasca pandemi dan ketidakstabilan geopolitik.
Perusahaan multinasional yang beroperasi di kedua wilayah kini harus menyesuaikan strategi bisnis mereka, mengingat rantai pasokan global akan terdampak secara signifikan.
Uni Eropa Bersiap Melawan
Merespons ancaman tarif AS, para pemimpin UE mengadakan pertemuan pada 7 April mendatang untuk membahas langkah-langkah selanjutnya.
Dikutip dari laman BBC News, salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan instrumen anti-paksaan, alat perdagangan paling kuat UE yang memungkinkan mereka untuk membatasi akses perusahaan AS ke pasar Eropa, hak kekayaan intelektual, serta investasi asing.
Apabila langkah tersebut diterapkan, maka perang dagang antara AS dan UE bisa semakin tidak terkendali.
Selain itu, Trump juga mengancam akan menaikkan tarif hingga 200% untuk produk-produk seperti anggur Eropa, sampanye, dan minuman beralkohol jika UE tetap melanjutkan pungutan atas ekspor wiski Amerika yang akan diberlakukan mulai 14 April.
What Next?
Sejumlah pejabat UE, termasuk Kepala Perdagangan Uni Eropa, Maros Sefcovic, telah melakukan pertemuan dengan perwakilan dagang AS di Washington. Meskipun belum ada kesepakatan konkret, pembicaraan ini menjadi langkah awal untuk mengurangi ketegangan.
Beberapa isu non-tarif seperti pajak pertambahan nilai, pajak digital, dan standar makanan juga ikut menjadi bahan diskusi.
Meski UE masih membuka peluang negosiasi, von der Leyen menegaskan bahwa mereka akan merespons tarif Trump dengan tindakan yang tegas dan proporsional.
"Kami lebih memilih solusi yang dapat dinegosiasikan, tetapi jika tidak ada kemajuan, kami siap bertindak," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 2Persija Banding Sanksi Komdis PSSI, 2 Larangan Laga Kandang Jadi Sorotan
- 3Kalender Jawa 19 September 2026: Watak Weton Sabtu Wage, Setia dan Berpendirian Kuat
- 4FIFA ASEAN Cup: PSSI Rilis 23 Pemain Timnas Indonesia, Jay Idzes dan Beckham Putra Absen
- 5Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 6Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Prediksi Skor Roma vs Inter 19 September 2026: Duel Dua Tim Sempurna di Olimpico
- 9Geledah Rumah Lampri, KPK Sita Bukti Dugaan Aliran Uang
- 10Presiden Prabowo: Saya Tidak Ingin Ada Orang Lapar di Indonesia








