Akurat

Tarif Timbal Balik Trump Jadi Ancaman Serius Bagi Indonesia

Camelia Rosa | 4 April 2025, 11:10 WIB
Tarif Timbal Balik Trump Jadi Ancaman Serius Bagi Indonesia

AKURAT.CO Ketegangan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat kembali memanas pasca Washington memberlakukan tarif tambahan terhadap sejumlah produk impor. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran di berbagai sektor, terutama industri yang bergantung pada pasar ekspor ke Negeri Paman Sam.

Menurut Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi INDEF, Andry Satrio Nugroho menegaskan bahwa kebijakan tarif tambahan sebesar 32% dari Amerika Serikat terhadap produk Indonesia merupakan ancaman serius yang tidak boleh diabaikan.

Sebab, lanjut Andry, alasan yang digunakan AS untuk pengenaan tarif Indonesia hingga 64% terhadap produk mereka, sangat menyesatkan karena dihitung dengan membagi defisit perdagangan dengan total ekspor, bukan berdasarkan tarif sebenarnya.

"Metode ini cacat, tapi dijadikan alasan untuk menekan kita secara sepihak. Ini bentuk proteksionisme terang-terangan yang merugikan Indonesia," ujar Andry dalam keterangan tertulisnya, Jumat (4/4/2025).

Baca Juga: Makna Tarif Trump! Antara Hukuman Bagi Mitra Dagang atau Sekadar Alat Negosiasi?

Andry menilai, tarif ini langsung menghantam sektor ekspor utama Indonesia. "Tekstil, pakaian, dan alas kaki menyumbang 27,5 persen dari total ekspor kita ke AS. Ini belum termasuk kelapa sawit serta karet yang juga menjadi komoditas strategis Indonesia," ungkapnya.

Oleh sebab itu dirinya mengingatkan bahwa dampaknya bukan hanya pada perdagangan, tetapi juga terhadap jutaan tenaga kerja.

"Dalam tiga tahun terakhir, sudah lebih dari 30 pabrik di sektor tekstil dan turunannya tutup. Jika pemerintah terus diam, kita bukan hanya kehilangan pasar utama, tapi juga akan muncul badai PHK lanjutan yang jauh lebih besar," tegasnya.

Selain itu ia menyampaikan kritik terhadap kekosongan posisi Duta Besar RI untuk AS yang telah terjadi sejak Juli 2023.

“Sudah hampir dua tahun kita tidak punya wakil di Washington, padahal AS mitra dagang kedua terbesar kita. Ini bukan sekadar kelalaian, tapi pengabaian terhadap kepentingan nasional,” kata Andry.

Baca Juga: Tidak Terima kena Tarif Trump, Uni Eropa Siapkan Serangan Balasan ke Amerika Serikat

Ia menekankan bahwa jabatan Duta Besar di AS bukan tempat kompromi politik. "Kita butuh sosok yang paham diplomasi ekonomi dan berpengalaman dalam lobi dagang. Ini bukan posisi simbolik ini garis depan pertahanan perdagangan Indonesia," tegasnya menambahkan.

Andry juga mendesak Presiden Prabowo agar segera menunjuk Duta Besar yang punya rekam jejak kuat di bidang perdagangan dan investasi.

"Setiap hari tanpa perwakilan di AS adalah hari di mana posisi tawar kita melemah. Kita kehilangan momentum, kehilangan peluang, dan kehilangan kendali," tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.