Hubungan AS-China Kian Memanas, Siapa yang Lebih Dirugikan?

AKURAT.CO Ketegangan hubungan ekonomi antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali memanas. Kebijakan proteksionis AS yang memperketat investasi China menuai reaksi keras dari Beijing. Namun, di tengah perseteruan ini, pertanyaannya adalah, siapa yang sebenarnya lebih dirugikan?
Sejalan dengan kebijakan “America First” yang digaungkan oleh Donald Trump, AS semakin memperketat aturan bagi investor China dengan alasan keamanan nasional. AS mengklaim bahwa investasi China di sektor strategis seperti teknologi dan manufaktur bisa membahayakan kepentingan nasional.
Hal ini ditegaskan dalam kebijakan 'America First Investment Policy', yang menyebut China sebagai salah satu ancaman utama bagi ekonomi AS. Namun, langkah AS ini justru berpotensi menjadi bumerang. Banyak perusahaan Amerika yang bergantung pada pasar China, baik sebagai basis produksi maupun sebagai konsumen utama.
Baca Juga: Babak Baru Perang Dagang AS vs Uni Eropa: Saling Adu Tarif
Mengutip dari laman Reuters, apabila China kehilangan kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi AS, investor Negeri Tirai Bambu bisa menarik diri dan mengalihkan modalnya ke negara lain. Tentunya hal tersebut bisa berdampak negatif pada lapangan pekerjaan serta stabilitas pasar keuangan di AS sendiri.
Sedangkan di sisi lain, China juga tak luput dari potensi kerugian. Dengan adanya pembatasan investasi tersebut, perusahaan-perusahaan China mungkin akan kesulitan mendapatkan akses ke teknologi dan inovasi terbaru yang selama ini mereka dapatkan dari mitra bisnis di AS. Akibatnya, pertumbuhan beberapa sektor industri strategis di China bisa terhambat.
Namun, China tampaknya sudah siap menghadapi tekanan ini. Beijing merespons kebijakan AS dengan memberlakukan langkah-langkah balasan, seperti pengenaan tarif tambahan pada produk Amerika.
Selain itu, China juga mulai mencari pasar alternatif di Eropa, Asia Tenggara, dan Afrika untuk mengurangi ketergantungan terhadap ekonomi AS.
Baca Juga: Mengenal Fentanyl, Si Kecil Pemicu Perang Dagang AS-China
Meski Trump sempat membuka peluang negosiasi untuk meredakan ketegangan, defisit perdagangan AS terhadap China yang mencapai USD295 miliar tetap menjadi batu sandungan bagi hubungan kedua negara.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent justru semakin memperkeruh suasana dengan menyebut China sebagai ekonomi paling tidak seimbang dalam sejarah dunia.
Ketegangan ekonomi ini tak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga pada ekonomi global. Perang dagang AS-China yang berkepanjangan bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










