Tagar KaburAjaDulu dan Fenomena Brain Drain
Yosi Winosa | 16 Februari 2025, 22:39 WIB

AKURAT.CO Belakangan ini, jagat media sosial Indonesia diramaikan dengan tagar #KaburAjaDulu. Dimana tagar tersebut mencerminkan keresahan dan kekecewaan, terutama di kalangan anak muda, terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Tanah Air.
Fenomena ini tidak hanya menjadi tren di dunia maya, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius mengenai dampak ekonomi yang mungkin timbul jika gelombang migrasi ini terus berlanjut.
Tagar #KaburAjaDulu mulai muncul di platform X pada September 2023, namun baru benar-benar viral pada Januari 2025. Mayoritas penggunanya adalah anak muda berusia 19–29 tahun.
Fenomena tersebut lahir dari rasa frustrasi terhadap kondisi ekonomi dan kualitas hidup di Indonesia. Sulitnya mencari pekerjaan, rendahnya upah, dan ketimpangan sosial menjadi pemicu utama.
Ungkapan "Kabur aja dulu" menjadi semacam seruan bagi mereka yang merasa peluang lebih baik tersedia di luar negeri. Banyak yang melihat negara lain sebagai tempat untuk mengembangkan potensi diri, mendapatkan kompensasi yang lebih layak, dan menikmati lingkungan kerja yang lebih mendukung.
Dampak Ekonomi
Mengutip dari laman Investopedia, Minggu (16/2/2025), salah satu dampak ekonomi yang paling nyata dari fenomena ini adalah terjadinya brain drain, yaitu migrasi tenaga kerja terampil dan berpendidikan ke luar negeri.
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan sumber daya manusia berkualitas yang seharusnya menjadi penggerak utama perekonomian nasional.
Industri yang bergantung pada tenaga muda dan terampil, seperti teknologi, startup, dan manufaktur, bisa kesulitan mendapatkan SDM berkualitas.
Selain itu, penurunan jumlah tenaga kerja terampil dapat berdampak pada produktivitas nasional. Kurangnya inovasi dan keterampilan khusus bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia di kancah global.
Kondisi ini juga dapat mempengaruhi iklim investasi, di mana investor mungkin ragu untuk menanamkan modalnya di negara dengan keterbatasan tenaga kerja berkualitas.
Kesenjangan Sosial
Fenomena #KaburAjaDulu juga menyoroti kesenjangan sosial yang semakin lebar di Indonesia. Banyak anak muda merasa bahwa impian mereka sulit tercapai karena terbatasnya kesempatan dan ketidakadilan dalam distribusi sumber daya.
Ketidakpuasan ini mendorong mereka mencari peluang di luar negeri yang dianggap lebih menjanjikan. Ketidakpuasan ini tidak hanya terkait dengan aspek ekonomi, tetapi juga mencakup kebijakan pemerintah yang dianggap kurang berpihak pada generasi muda.
Beberapa kebijakan dinilai tidak memberikan ruang bagi anak muda untuk berkembang dan berkontribusi secara maksimal. Tentunya hal ini semakin memperkuat keinginan mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain.
Respons Pemerintah
Menanggapi fenomena ini, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengimbau masyarakat untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan pindah ke luar negeri.
Pemerintah menekankan pentingnya mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk legalitas, keamanan, dan kesiapan mental sebelum memutuskan untuk menetap di negara lain.
"Satu hal yang kita tegaskan, hak setiap warga negara bekerja di luar negeri. Namun, lakukan dengan proses yang benar dan jalur yang legal," demikian pesan dari Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemlu RI, Judha Nugraha kepada awak media dalam jumpa pers pada Kamis (13/2/2025).
Menurut Judha, dari 67.297 jumlah kasus WNI pada tahun 2024, mayoritas kasus pelanggaran keimigrasian. "Artinya apa? Banyak warga negara kita bekerja di luar negeri masih melalui jalur non-prosedural. Jadi, pola imigrasinya belum aman," ujar Judha
"Nah, ke depan kita ingin dorong migrasi aman perlu kita tingkatkan. Jadi, pertama tentunya kita kuatkan tata kelola migrasi yang murah, mudah, dan aman. Kemudian ketika pola migrasinya sudah tercipta, penegakan hukum kita lakukan," paparnya lagi.
Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualitas hidup dan kesempatan kerja di dalam negeri agar generasi muda merasa lebih dihargai dan memiliki alasan kuat untuk tetap berkontribusi di Tanah Air.
Fenomena #KaburAjaDulu seharusnya menjadi cermin bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk introspeksi. Diperlukan upaya nyata dalam menciptakan lapangan kerja yang layak, memperbaiki sistem pendidikan, dan mengurangi kesenjangan sosial.
Selain itu, kebijakan yang mendukung pengembangan potensi generasi muda harus menjadi prioritas agar mereka merasa dihargai dan memiliki masa depan cerah di Indonesia.
Meskipun mencari peluang di luar negeri bukanlah hal yang salah, namun alangkah baiknya jika generasi muda Indonesia dapat menemukan dan mewujudkan impian mereka di negeri sendiri. Hal ini tidak hanya akan memperkuat perekonomian nasional, tetapi juga membangun bangsa yang lebih mandiri dan sejahtera.
Secara keseluruhan, fenomena #KaburAjaDulu adalah alarm bagi kita semua. Dimana menjadi sebuah tanda bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam sistem sosial dan ekonomi kita.
Dengan kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, diharapkan Indonesia dapat menjadi tempat yang lebih baik bagi generasi muda untuk tumbuh, berkembang, dan berkontribusi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










