Imigrasi Diperketat, AS Terancam Krisis Tenaga Kerja
Yosi Winosa | 11 Februari 2025, 11:32 WIB

AKURAT.CO Kebijakan imigrasi yang diperketat oleh Presiden Donald Trump menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pengusaha dan ekonom. Dengan menurunnya jumlah imigran yang masuk ke Amerika Serikat (AS), banyak sektor industri diperkirakan akan mengalami kekurangan tenaga kerja yang serius.
Menurut laporan dari Goldman Sachs yang dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/2/2025) jumlah imigrasi bersih ke AS diperkirakan turun drastis menjadi 750.000 orang per tahun. Padahal, tahun lalu, Biro Sensus mencatat bahwa ada sekitar 2,8 juta imigran yang masuk ke AS.
Banyak imigran yang selama ini bekerja di sektor-sektor penting, seperti konstruksi, pertanian, dan jasa. Jika jumlah mereka berkurang drastis, maka berbagai industri akan mengalami kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang cukup.
Kebijakan Trump yang memperketat imigrasi ilegal juga semakin memperburuk situasi. Diperkirakan sekitar 500.000 orang akan dideportasi setiap tahun, yang berarti jumlah tenaga kerja akan semakin berkurang. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, imigran dari Kolombia dan India sudah mulai dipulangkan ke negara asal mereka.
Banyak pengusaha yang mengandalkan tenaga kerja imigran merasa khawatir dengan kebijakan ini. Mereka khawatir bahwa tanpa pekerja imigran, bisnis mereka tidak bisa berjalan dengan optimal.
Industri kena Pukul
Menurut data Goldman Sachs, sekitar 5% dari total tenaga kerja di AS terdiri dari imigran tanpa dokumen. Namun, di beberapa industri seperti konstruksi dan jasa lansekap, jumlahnya bisa mencapai 20%.
Tanpa tenaga kerja ini, banyak perusahaan bisa mengalami kesulitan besar. Biaya produksi bisa meningkat, proyek konstruksi bisa tertunda, dan harga jasa bisa naik. Semua ini bisa berdampak langsung pada harga barang dan jasa di AS, yang pada akhirnya akan mempengaruhi daya beli masyarakat.
Salah satu efek dari berkurangnya tenaga kerja adalah meningkatnya upah. Dengan sedikitnya jumlah pekerja yang tersedia, perusahaan harus menawarkan gaji lebih tinggi untuk menarik tenaga kerja.
Namun, hal ini juga bisa berdampak pada inflasi. Jika biaya produksi meningkat, harga barang dan jasa juga akan naik. Ini bisa menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Meskipun kebijakan imigrasi Trump bertujuan untuk melindungi pekerja lokal, faktanya banyak industri di AS yang bergantung pada tenaga kerja imigran. Jika kebijakan ini tidak diperhitungkan dengan baik, AS bisa menghadapi krisis tenaga kerja yang serius di masa depan.
Para ekonom berharap agar pemerintah AS dapat mencari solusi yang lebih seimbang, misalnya dengan tetap memperketat aturan imigrasi ilegal, tetapi juga membuka jalur legal yang lebih fleksibel bagi tenaga kerja asing yang dibutuhkan di berbagai sektor.
Dengan begitu, AS bisa tetap menjaga stabilitas pasar tenaga kerja, mencegah lonjakan inflasi, dan memastikan bahwa pertumbuhan ekonominya tetap terjaga dalam jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










