Trump Perketat Aturan Imigrasi, Ekonomi AS Lampu Kuning?
Demi Ermansyah | 11 Februari 2025, 11:28 WIB

AKURAT.CO Pembatasan imigrasi yang diterapkan Presiden Donald Trump berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Ekonom dari Goldman Sachs memperkirakan bahwa kebijakan ini bisa memangkas pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 0,3 hingga 0,4 poin persentase tahun ini.
Penurunan ini berkaitan dengan berkurangnya jumlah imigran yang masuk ke AS. Dalam laporan yang dirilis pada Selasa (11/2/2025) mengutip dari Bloomberg, sex Goldman Sachs memperkirakan bahwa jumlah imigrasi bersih akan turun menjadi 750.000 orang per tahun, jauh di bawah angka 2,8 juta yang tercatat oleh Biro Sensus tahun lalu.
Selain jumlah imigran yang menurun, komposisi mereka juga diperkirakan akan berubah drastis. Dengan kebijakan deportasi yang lebih ketat, hampir tidak ada lagi imigran ilegal yang masuk ke AS. Diperkirakan ada sekitar 500.000 orang dideportasi setiap tahun, mengimbangi jumlah pencari suaka dan pendatang legal lainnya.
Trump sudah mulai menerapkan kebijakan ini dengan meningkatkan penahanan dan deportasi. Bahkan, warga dari beberapa negara seperti Kolombia dan India sudah mulai dipulangkan. Langkah ini menjadi bagian dari janji kampanye Trump untuk menindak imigrasi ilegal secara lebih agresif.
Tak sampai disitu, Goldman Sachs juga menegaskan bahwa imigran tanpa dokumen saat ini mencakup sekitar 5% dari total tenaga kerja AS. Di beberapa sektor seperti konstruksi dan jasa lansekap, angkanya bahkan mencapai 20%.
Jika kebijakan ini terus berjalan, banyak sektor industri yang akan mengalami kekurangan tenaga kerja. "Hilangnya pekerja ini secara mendadak bisa sangat mengganggu banyak industri dan berpotensi meningkatkan inflasi," tulis para analis dalam laporan mereka.
Sejauh ini, imigrasi telah menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan tenaga kerja AS. Dalam lima tahun terakhir, lebih dari 5 juta pekerja asing bergabung dengan pasar tenaga kerja, membantu meningkatkan upah di berbagai sektor. Namun, jika jumlah imigran terus berkurang, tren ini diperkirakan akan melambat.
Meskipun Trump berdalih bahwa kebijakan ini bertujuan untuk melindungi pekerja lokal, nyatanya tenaga kerja imigran sangat dibutuhkan di berbagai sektor. Jika kebijakan ini terus diperketat, AS mungkin akan menghadapi kekurangan tenaga kerja yang serius, yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Beberapa ekonom juga khawatir bahwa penurunan jumlah imigran akan mempengaruhi produktivitas dan daya saing AS di tingkat global. Tanpa tenaga kerja imigran yang cukup, biaya produksi bisa meningkat, yang pada akhirnya akan berdampak pada harga barang dan jasa di pasar.
Banyak pihak berharap agar kebijakan ini dievaluasi kembali agar ekonomi AS tidak terdampak terlalu besar. Jika AS ingin tetap kompetitif secara global, maka kebijakan imigrasi harus lebih seimbang, tidak hanya berfokus pada pembatasan, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja di dalam negeri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










