China Melawan, Investigasi Google hingga Kenakan Tarif pada Produk AS
Demi Ermansyah | 5 Februari 2025, 16:47 WIB

AKURAT.CO China resmi melancarkan serangan balasan terhadap Amerika Serikat dengan membuka investigasi terhadap Google dan menerapkan tarif baru pada berbagai produk asal Negeri Paman Sam.
Dimana langkah tersebut diumumkan hanya beberapa saat setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif 10% terhadap barang-barang impor dari China, yang kembali memanaskan perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari bloomberg, Rabu (5/2/2025), Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar China mengonfirmasi bahwa pihaknya akan menyelidiki Google atas dugaan praktik antimonopoli.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari bloomberg, Rabu (5/2/2025), Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar China mengonfirmasi bahwa pihaknya akan menyelidiki Google atas dugaan praktik antimonopoli.
Tak hanya itu, Beijing juga mengumumkan tarif tambahan 15% untuk batu bara dan gas alam cair (LNG) dari AS, serta 10% untuk minyak mentah dan peralatan pertanian.
"Kebijakan tarif sepihak dari AS secara serius melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), langkah ini tidak hanya gagal menyelesaikan masalah AS sendiri, tetapi juga merusak hubungan ekonomi dan perdagangan yang selama ini berjalan normal antara kedua negara," tulis pengumuman yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan China.
"Kebijakan tarif sepihak dari AS secara serius melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), langkah ini tidak hanya gagal menyelesaikan masalah AS sendiri, tetapi juga merusak hubungan ekonomi dan perdagangan yang selama ini berjalan normal antara kedua negara," tulis pengumuman yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan China.
Tentunya tindakan balasan dari China ini datang sebagai respons cepat terhadap keputusan tarif yang diterapkan AS. Situasi ini cukup kontras dengan Meksiko dan Kanada, yang berhasil mendapatkan penangguhan tarif 25% selama satu bulan setelah mencapai kesepakatan dengan Trump.
Sementara itu, Presiden Trump pada Sabtu lalu juga mengeluarkan perintah eksekutif yang menuntut Partai Komunis China menindak kelompok kriminal yang diduga terlibat dalam perdagangan obat-obatan terlarang. Hal ini menjadi salah satu alasan utama di balik kebijakan tarif baru yang ia terapkan.
Sementara itu, Presiden Trump pada Sabtu lalu juga mengeluarkan perintah eksekutif yang menuntut Partai Komunis China menindak kelompok kriminal yang diduga terlibat dalam perdagangan obat-obatan terlarang. Hal ini menjadi salah satu alasan utama di balik kebijakan tarif baru yang ia terapkan.
Akibat dari ketegangan perdagangan tersebut, nampaknya langsung berdampak pada pasar keuangan global. Dolar AS mengalami penguatan, sementara yuan offshore China melemah 0,3%.
Mata uang Australia dan Selandia Baru yang memiliki hubungan dagang erat dengan China tertekan dan turun hampir 1%. Beberapa mata uang Asia lainnya, seperti baht Thailand dan rupiah Indonesia, juga mengalami pelemahan tipis.
Google sendiri sebenarnya sudah lama diblokir di China sejak 2010. Namun, perusahaan teknologi asal AS itu masih tetap menjalankan bisnisnya di sana, terutama dalam sektor periklanan digital.
Sementara itu, berdasarkan data pelacakan pengiriman, AS menyumbang sekitar 6% dari total impor LNG China pada tahun lalu. Dengan adanya tarif baru ini, pasar energi global diprediksi akan mengalami ketidakstabilan lebih lanjut.
Akhir pekan lalu, Trump juga telah mengeluarkan kebijakan tarif menyeluruh terhadap ekspor China, yang mulai berlaku pada Selasa tengah malam waktu AS. Jika Beijing kembali membalas dengan langkah serupa, AS telah menyiapkan opsi kenaikan tarif lebih lanjut sebagai tindakan lanjutan.
Google sendiri sebenarnya sudah lama diblokir di China sejak 2010. Namun, perusahaan teknologi asal AS itu masih tetap menjalankan bisnisnya di sana, terutama dalam sektor periklanan digital.
Sementara itu, berdasarkan data pelacakan pengiriman, AS menyumbang sekitar 6% dari total impor LNG China pada tahun lalu. Dengan adanya tarif baru ini, pasar energi global diprediksi akan mengalami ketidakstabilan lebih lanjut.
Akhir pekan lalu, Trump juga telah mengeluarkan kebijakan tarif menyeluruh terhadap ekspor China, yang mulai berlaku pada Selasa tengah malam waktu AS. Jika Beijing kembali membalas dengan langkah serupa, AS telah menyiapkan opsi kenaikan tarif lebih lanjut sebagai tindakan lanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Ijazah Gibran Dipersoalkan, Politisi PSI Singgung Riwayat Pendidikan BJ Habibie
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi









