Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Ding menegaskan bahwa China akan berupaya memperluas impor untuk mendorong perdagangan yang lebih seimbang.
“Kami ingin meningkatkan impor produk dan jasa berkualitas untuk menciptakan keseimbangan perdagangan,” ujar Ding tanpa secara langsung menyebut Amerika Serikat melalui lansiran Reuters, dikutip Kamis (24/1/2025).
Ancaman tarif sebesar 10% dari Trump didasarkan pada tudingan bahwa China terlibat dalam perdagangan fentanyl, bahan kimia berbahaya, serta praktik dagang yang dianggap tidak adil.
Namun, Ding memilih untuk menyoroti langkah positif negaranya dalam memperbaiki perdagangan internasional.
Meskipun begitu, China tampaknya mengambil pendekatan yang lebih strategis dengan menghindari konfrontasi langsung. Pernyataan Ding di Davos menunjukkan komitmen Beijing untuk memperkuat kerja sama global.
Sementara itu, Trump terus menegaskan sikap kerasnya terhadap China. Dalam sebuah wawancara di Gedung Putih, ia mengklaim bahwa sebelum ia menjadi presiden, China tidak pernah memberikan kontribusi signifikan pada Amerika, tetapi kini situasinya telah berubah drastis.
Namun, ancaman tarif Trump tidak hanya menyasar China. Ia juga menyoroti Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko sebagai pelaku praktik dagang yang dianggap merugikan Amerika Serikat.
Meski menghadapi tekanan dari AS, China terus berupaya memperkuat ekonominya. Dalam beberapa tahun terakhir, negara ini telah meningkatkan investasi domestik serta mendorong inovasi teknologi.