Harga Minyak Dunia Naik ke Level Tertinggi Sejak Oktober, Brent Tembus USD76,66 per Barel

AKURAT.CO Harga minyak dunia mencapai level tertinggi sejak Oktober pada perdagangan Senin (6/1/2025), dipengaruhi oleh ekspektasi peningkatan permintaan bahan bakar global akibat cuaca dingin di belahan bumi utara dan langkah stimulus ekonomi yang dikeluarkan oleh Beijing.
Kontrak berjangka Brent naik 15 sen atau 0,2% menjadi USD76,66 per barel pada pukul 01.25 GMT. Pada Jumat sebelumnya, harga Brent mencapai level tertinggi sejak 14 Oktober. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 22 sen atau 0,3% menjadi USD74,18 per barel, melanjutkan rekor tertingginya sejak 11 Oktober.
Dikutip dari Reuters, Senin (6/1/2025), pemerintah China mengumumkan langkah-langkah besar untuk memacu perekonomian, termasuk peningkatan pendanaan dari obligasi jangka panjang pada 2025.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Tipis 0,2 Persen
Selain itu, bank sentral China menyatakan akan menurunkan rasio cadangan wajib perbankan dan suku bunga pada waktu yang tepat guna mendorong investasi bisnis dan konsumsi masyarakat.
China, sebagai pengimpor minyak terbesar di dunia dan konsumen minyak terbesar kedua, menjadi perhatian utama pasar. Tahun lalu, permintaan minyak di negara ini menurun akibat perlambatan ekonomi dan peralihan ke bahan bakar yang lebih bersih di sektor transportasi. Dengan adanya stimulus baru, para analis optimis permintaan minyak China akan kembali meningkat.
Cuaca dingin di belahan bumi utara juga mendorong ekspektasi peningkatan permintaan bahan bakar untuk pemanas. Kombinasi antara musim dingin dan aktivitas ekonomi yang meningkat di China bisa menjadi faktor pendorong harga minyak di pasar global.
Di sisi suplai, Goldman Sachs memprediksi produksi minyak Iran akan turun hingga 300.000 barel per hari pada kuartal kedua 2025. Penurunan ini disebabkan oleh kebijakan baru dan sanksi yang lebih ketat dari pemerintahan Presiden AS yang baru, Donald Trump. Dengan demikian, output minyak Iran diperkirakan hanya mencapai 3,25 juta barel per hari.
Laporan mingguan dari perusahaan jasa energi Baker Hughes menunjukkan jumlah rig minyak AS turun satu unit menjadi 482 rig pada pekan lalu. Penurunan ini menjadi indikator bahwa produksi minyak AS di masa depan mungkin akan melambat, memberikan dorongan tambahan pada harga minyak.
Selain China dan Iran, pasar minyak juga dipengaruhi oleh dinamika pasokan dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Beberapa negara anggota OPEC masih berusaha menjaga keseimbangan antara produksi dan harga untuk memaksimalkan pendapatan mereka.
Para investor tetap optimis bahwa kebijakan ekonomi China dan kondisi cuaca akan memberikan dampak positif pada permintaan minyak dalam beberapa bulan ke depan. Namun, mereka juga mencermati kemungkinan risiko geopolitik, termasuk kebijakan baru dari pemerintahan AS.
Harga minyak yang terus naik menjadi cerminan harapan pasar terhadap pemulihan ekonomi global, terutama dari China. Namun, dinamika suplai seperti produksi Iran dan jumlah rig di AS juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah harga minyak ke depan.
Sambil terus memantau langkah-langkah kebijakan dan perubahan cuaca, pelaku pasar tampaknya bersiap untuk volatilitas yang lebih tinggi di pasar energi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










