Danamon Taksir Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 5,04 Persen di 2026
Hefriday | 27 November 2025, 18:19 WIB

AKURAT.CO Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang, memproyeksikan perekonomian Indonesia berpotensi tumbuh hingga 5,04% pada 2026.
Optimisme tersebut didorong oleh sejumlah faktor, mulai dari penguatan belanja pemerintah, stabilitas nilai tukar Rupiah, hingga perbaikan harga komoditas global.
“Indonesia itu sebenarnya bisa tumbuh di atas 5 persen, kita optimistis untuk ini,” ujar Hosianna dalam acara Danamon Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (27/11/2025).
Dalam presentasinya, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 akan berada pada level 5,04% atau sedikit lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2025 yang diperkirakan mencapai 5,02%.
Angka tersebut dinilai masih lebih rendah dibanding realisasi 2024 yang juga berada di kisaran 5,02%. Menurut Hosianna, peningkatan kinerja ekonomi tersebut akan ditopang oleh dorongan belanja pemerintah, khususnya melalui penyaluran bantuan sosial yang dapat memperkuat daya beli masyarakat serta memacu konsumsi rumah tangga.
Di samping itu, perbaikan harga komoditas diperkirakan turut menjaga kontribusi dari sektor ekspor dan pendapatan negara. Kondisi tersebut memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kegiatan produksi dan investasi.
Faktor lain yang memperkuat optimisme adalah stabilitas nilai tukar Rupiah yang diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp16.500 hingga Rp16.950 per USD sepanjang 2026.
Menurut Hosianna, kondisi ini membuka peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk melonggarkan kebijakan moneter.
“Harusnya kalau Rupiahnya menguat, asingnya sudah mulai masuk, mungkin ada ruang buat BI nurunin dari 4,75 persen ke 4,5 persen dan bisa lanjut lagi nurunin suku bunga ke 4,25 persen di tahun berikutnya,” terangnya.
Penurunan suku bunga diharapkan mampu mendorong peningkatan konsumsi, penciptaan lapangan kerja baru, dan pertumbuhan sektor ritel maupun otomotif melalui kemudahan pembiayaan dan kredit.
Hosianna menilai pemerintah telah berupaya menjaga momentum pertumbuhan dengan menyalurkan dana dan instrumen kebijakan fiskal serta moneter ke sektor-sektor produktif. Ia menekankan bahwa perputaran uang menjadi kunci agar aktivitas ekonomi tetap terjaga.
“Kalau ekonominya jalan, yang dibutuhkan salah satunya adalah uang dari pemerintah, baik dari Kemenkeu maupun BI. Itu harus turun ke masyarakat, diinjeksi, dan berputar di setiap aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Selain pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), permintaan domestik juga diproyeksikan tumbuh 4,9% pada 2026. Sementara itu, nilai GDP nominal diperkirakan mencapai USD1.589 miliar, mencerminkan peningkatan kapasitas ekonomi nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini









