Dilansir dari Bloomberg, Rabu (18/12/2024), langkah The Fed kali ini dipengaruhi oleh data ekonomi terbaru yang menunjukkan inflasi menurun lebih lambat dari ekspektasi, sementara pasar tenaga kerja tetap kuat.
Menurut Ekonom Kepala AS di SGU Macro Advisors, Tim Duy mengatakan bahwa pendekatan perlahan dalam pengurangan suku bunga dapat menjadi strategi tepat dalam situasi ketidakpastian ini.
“Semakin mendekati batas atas estimasi tingkat netral, wajar bagi The Fed untuk bergerak lebih hati-hati dan mengevaluasi posisi kebijakannya,” kata Duy.
Suku bunga acuan diprediksi turun sebesar seperempat poin persentase ke rentang target 4,25%-4,5%. Meski demikian, angka tersebut masih jauh di atas proyeksi jangka panjang The Fed sebesar 2,9%. Kenaikan proyeksi ini mencerminkan kekuatan ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan beberapa bulan lalu.
"Bagian penting dari proyeksi terbaru The Fed adalah dot plot, grafik yang menunjukkan jalur suku bunga ke depan, oleh karena itu diprediksi akan ada tiga kali pemotongan suku bunga untuk tahun 2024, lebih sedikit dibandingkan empat kali pemotongan yang diantisipasi pada September," paparnya.
Senada dengan Duy, Anna Wong selaku ekonom kepala AS di Bloomberg Economics, menyebut inflasi inti PCE yang lemah pada November dapat meyakinkan beberapa pejabat untuk mendukung pemotongan minggu ini.
Namun, tingkat pengangguran yang rendah dan pertumbuhan ekonomi yang kuat membuat beberapa pejabat Fed tetap hati-hati terhadap risiko inflasi di masa depan.
Keputusan final The Fed juga akan mempertimbangkan kebijakan presiden terpilih Donald Trump. Para pejabat memilih menunggu rincian lebih lanjut sebelum menyesuaikan proyeksi pertumbuhan dan inflasi berdasarkan kebijakan baru pemerintah.