Akurat

Harga Konsumen AS Naik di November, The Fed Diprediksi Pangkas Suku Bunga

Demi Ermansyah | 12 Desember 2024, 22:20 WIB
Harga Konsumen AS Naik di November, The Fed Diprediksi Pangkas Suku Bunga

AKURAT.CO Harga konsumen di Amerika Serikat mengalami kenaikan signifikan pada November, sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Data ini semakin memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) bakal memangkas suku bunga minggu depan.

Dilansir dari Bloomberg, Kamis (12/12/2024), mengacu kepada laporan Biro Statistik AS, Indeks Harga Konsumen (CPI) inti yang tidak memperhitungkan biaya makanan dan energi tercatat naik 0,3% selama empat bulan berturut-turut dibandingkan dengan tahun lalu, indeks tersebut mengalami kenaikan sebesar 3,3%.

Para ekonom menilai CPI inti sebagai gambaran yang lebih akurat untuk tren inflasi dibandingkan CPI keseluruhan, yang lebih rentan terhadap fluktuasi harga makanan dan energi. Indikator utama lainnya juga naik 0,3% dari bulan sebelumnya dan 2,7% dari tahun sebelumnya.

Baca Juga: Data Inflasi AS Bikin The Fed Hati-hati Turunkan Suku Bunga

Kemudian, biaya tempat tinggal, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama inflasi, sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, kategori ini tetap menyumbang sekitar 40% dari kenaikan keseluruhan.

“Dengan melihat perlambatan di sektor perumahan, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi The Fed untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, dan melanjutkan pemangkasan di tahun 2025,” ucap Andrew Hollenhorst, Ekonom Citigroup Inc.

Meski tekanan harga mulai mereda setelah puncaknya selama pemulihan pandemi, perkembangan inflasi belakangan ini cenderung stagnan. Hal ini, bersama dengan membaiknya situasi pasar tenaga kerja, menjadi alasan sejumlah pejabat bank sentral menyerukan pemangkasan suku bunga secara bertahap.

Laporan CPI juga mencatat kenaikan biaya barang non-makanan dan energi sebesar 0,3%, yang menjadi kenaikan tertinggi sejak Mei 2023. Lonjakan ini didorong oleh harga kendaraan baru, bekas, serta pakaian jadi, kategori yang sebelumnya menjadi pendorong utama disinflasi.

Harga bahan makanan melonjak 0,5%, kenaikan terbesar sejak awal tahun lalu, sementara biaya tempat tinggal naik 0,3% pada November, sedikit lebih rendah dari kenaikan bulan sebelumnya sebesar 0,4%.

Di luar perumahan dan energi, harga layanan naik 0,3% untuk bulan kedua berturut-turut. Namun, indikator inflasi lain seperti Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang lebih sedikit memperhitungkan biaya tempat tinggal, menunjukkan tren yang lebih mendekati target inflasi The Fed sebesar 2%.

Laporan pemerintah mengenai harga produsen yang akan dirilis pada Kamis (12/12/2024) akan memberikan gambaran lebih rinci tentang kategori lain, termasuk layanan kesehatan, tiket pesawat, dan manajemen portofolio, yang berkontribusi pada PCE.

Para pembuat kebijakan juga terus memantau pertumbuhan upah karena hal ini mempengaruhi daya beli konsumen sebagai motor utama perekonomian. Laporan terbaru menunjukkan pendapatan riil per jam naik 1,3% dibandingkan tahun lalu.

Meskipun pasar tenaga kerja tidak lagi dianggap sebagai pendorong utama inflasi, langkah-langkah kebijakan dari Presiden terpilih Donald Trump ke depan bisa mempengaruhi tren inflasi.

Beberapa janji kampanyenya, seperti potensi kenaikan tarif, dapat meningkatkan tekanan harga, memaksa pelaku usaha mempertimbangkan kenaikan harga barang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.