Aduh, AS Bakal Kenai Tarif Dumping Produk Panel Surya dari 4 Negara ASEAN
Demi Ermansyah | 30 November 2024, 16:27 WIB

AKURAT.CO Otoritas perdagangan Amerika Serikat mengumumkan pada Jumat lalu putaran tarif baru untuk impor panel surya dari empat negara Asia Tenggara. Di mana langkah ini diambil pasca produsen lokal AS mengeluhkan bahwa perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut membanjiri pasar dengan barang-barang murah yang dinilai tidak adil.
Usut punya usut keputusan tersebut merupakan salah satu dari dua babak penentuan awal yang dilakukan Departemen Perdagangan di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden tahun ini, dalam kasus perdagangan yang diajukan oleh Hanwha Qcells dari Korea Selatan, First Solar Inc yang berbasis di Arizona, serta beberapa produsen kecil lainnya.
Kelompok yang dikenal sebagai American Alliance for Solar Manufacturing Trade Committee menuduh bahwa produsen panel surya besar asal China dengan pabrik di Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand telah menyebabkan harga global turun drastis dengan menjual produk di pasar AS dengan harga di bawah biaya produksi atau harga domestik mereka.
Kelompok yang dikenal sebagai American Alliance for Solar Manufacturing Trade Committee menuduh bahwa produsen panel surya besar asal China dengan pabrik di Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand telah menyebabkan harga global turun drastis dengan menjual produk di pasar AS dengan harga di bawah biaya produksi atau harga domestik mereka.
Menurut lansiran Reuters, Sabtu (30/11/2024), berdasarkan keputusan awal yang dipublikasikan di situs Departemen Perdagangan AS, tarif dumping yang dikenakan bervariasi antara 21,31% hingga 271,2%, tergantung pada perusahaan dan negara asal.
Beberapa detail tarif meliputi:
- Jinko Solar: 21,31% untuk produk buatan Malaysia dan 56,51% untuk produk dari Vietnam
- Trina Solar: 77,85% untuk produk buatan Thailand dan 54,46% untuk produk dari Vietnam.
Sebaliknya, produk Hanwha Q Cells yang dibuat di Malaysia tidak dikenai tarif dumping. Pada Oktober lalu, Departemen Perdagangan menetapkan subsidi sebesar 14,72% untuk perusahaan ini.
Keputusan final dari kasus ini dijadwalkan pada 18 April 2025, dengan keputusan akhir dari Administrasi Perdagangan Internasional yang akan menyusul pada 2 Juni 2025, dan keputusan final akan diresmikan pada 9 Juni.
Kemandirian Industri Surya AS
Tim Brightbill, penasihat hukum utama untuk kelompok penggugat, menyatakan bahwa dengan tarif awal ini, kita semakin mendekati penyelesaian praktik perdagangan yang merugikan selama bertahun-tahun dan melindungi investasi miliaran dolar dalam manufaktur dan rantai pasokan panel surya Amerika.
Sebagian besar panel surya yang dipasang di AS diproduksi di luar negeri, dengan 80% impor berasal dari empat negara yang menjadi target investigasi ini. Pemerintahan Biden tahun ini menyoroti besarnya investasi China dalam kapasitas produksi barang energi bersih, termasuk panel surya.
Bahkan undang-undang Pengurangan Inflasi (Inflation Reduction Act), yang menjadi tonggak kebijakan iklim AS, menawarkan insentif besar bagi perusahaan yang memproduksi peralatan energi bersih di AS. Kebijakan ini telah mendorong rencana pembangunan pabrik baru di berbagai lokasi di Amerika.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










