Di mana kebijakan ini bertujuan meredakan tekanan likuiditas di tengah lonjakan penerbitan obligasi oleh pemerintah daerah yang berupaya mengatasi beban utang mereka.
Dalam pernyataan resminya melalui lansiran Bloomberg, PBoC mengungkapkan bahwa dana tersebut diberikan melalui fasilitas pinjaman jangka menengah (Medium-Term Lending Facility/MLF) dengan tingkat bunga sebesar 2%.
Langkah ini menjadi rutinitas PBoC yang biasanya menggelar operasi MLF menjelang akhir bulan.
Tekanan Likuiditas Meningkat
Menjelang akhir tahun, sistem perbankan China menghadapi tekanan likuiditas yang makin berat. Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya penerbitan obligasi pemerintah daerah.
Beijing sedang gencar meredam risiko utang sekaligus mendorong pemulihan ekonomi yang masih lesu.
Menurut perkiraan Reuters, penerbitan obligasi pada November 2024 diperkirakan mencapai lebih dari CNY1,3 triliun (sekitar USD179,4 miliar). Ini merupakan volume bulanan terbesar sepanjang tahun.
"Tekanan likuiditas mungkin akan meningkat pekan ini karena jatuh tempo reverse repo, lonjakan penerbitan obligasi, dan kebutuhan uang tunai yang fluktuatif di akhir bulan," tulis Citic Securities dalam catatannya, Selasa (26/11/2024).
Sebagai antisipasi, PBoC diperkirakan akan mengambil langkah lain, seperti menurunkan persyaratan cadangan minimum untuk bank-bank komersial.
Langkah ini bertujuan memberikan ruang lebih bagi bank untuk mengelola likuiditasnya menjelang akhir tahun. Informasi ini juga didukung oleh laporan dari China Securities Journal yang menyebut kebijakan ini mungkin segera diambil.
Dengan suntikan dana besar ini, PBoC berusaha memastikan stabilitas sistem keuangan dan mendorong upaya pemulihan ekonomi di tengah tantangan likuiditas yang terus meningkat.