BI Rate Bakal Turun Lagi di Oktober 2024?

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) bakal memutuskan BI Rate dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berakhir hari ini, Rabu (16/10/2024). Pertanyaannya, akankah BI rate kembali diturunkan menyusul berakhirnya era suku bunga tinggi (higher for longer) bank sentral AS atau The Fed?
Pada September 2024 lalu, BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% pada September 2024. Keputusan ini didasarkan pada kondisi nilai tukar yang stabil dan menguat serta inflasi yang rendah serta arah kebijakan Federal Reserve AS yang semakin jelas terkait penurunan suku bunganya.
Sementara tingkat inflasi yang ada di Indonesia terus melambat, tercatat pada angka 2,12% pada Agustus 2024, turun tipis dari 2,13% di bulan sebelumnya. Penyumbang terbesar inflasi adalah makanan, minuman, dan tembakau (45%), diikuti oleh perawatan pribadi (17%). Pada basis bulanan (MoM), Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,03%, turun dari deflasi 0,18% pada bulan sebelumnya.
Baca Juga: Kemenperin Sebut Penurunan BI Rate Pacu Iklim Industri
S&P Global melaporkan bahwa Indeks Pembelian Manajer (PMI) manufaktur Indonesia berada pada level 48,9 di Agustus 2024, turun 0,4 poin dari bulan sebelumnya. Ini menandakan dua bulan berturut-turut di mana sektor manufaktur mengalami kontraksi.
Realisasi pendapatan negara hingga Agustus 2024 mencapai Rp1.777 triliun, turun 2% secara tahunan (YoY), yang baru mencapai 63,4% dari target APBN. Sementara itu, realisasi pengeluaran negara mencapai Rp1.931 triliun, meningkat 15% YoY, atau setara dengan 58,1% dari target APBN. Defisit anggaran melebar menjadi Rp153,7 triliun (0,68% dari PDB) dari Rp93,4 triliun (0,41% dari PDB) pada Juli 2024.
Pada Agustus 2024, impor Indonesia tercatat sebesar USD21 miliar, turun 5% dibandingkan Juli, dengan impor minyak dan gas mengalami penurunan 26%. Dari Januari hingga Agustus, total impor meningkat 3% YoY menjadi USD152 miliar, didorong oleh kenaikan impor non-migas sebesar 2%.
Pada bulan September, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan sebesar 1,86% MoM, meskipun terdapat aliran masuk dana asing sebesar Rp22 triliun. Sementara itu, indeks LQ45 mengalami penurunan sebesar 0,59% MoM dan IDX80 naik 1,24%.
Meskipun aliran penjualan lokal melambat dibandingkan bulan sebelumnya, pengaruh aliran dana asing yang kuat mampu mendorong IHSG mencapai rekor tertinggi baru di level 7.900. Selain itu, surplus perdagangan Indonesia yang tetap tinggi berhasil membawa nilai tukar rupiah turun hingga sekitar Rp15.060/USD pada satu titik di bulan September.
Di pasar global, data ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Agustus 2024 naik 0,2% MoM atau 2,5% YoY, yang merupakan kenaikan tahunan terkecil sejak Februari 2021. Bank Sentral AS, Federal Reserve, menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin, sebuah keputusan yang memperkuat sentimen positif di pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









