Strong Leadership dan Kebijakan Fiskal Tegas

AKURAT.CO Kepemimpinan Prabowo Subianto yang akan datang menghadirkan harapan baru sekaligus tantangan besar, khususnya di sektor kebijakan fiskal dan moneter. Sebagai calon pemimpin yang kerap diasosiasikan dengan gaya kepemimpinan tegas, muncul pertanyaan yang sangat penting.
Seperti yang diketahui bersama Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai tantangan di bidang ekonomi. Utang luar negeri, defisit anggaran, ketergantungan pada impor, serta dinamika global seperti ketegangan geopolitik dan perubahan iklim menjadi isu yang perlu segera ditangani.
Dalam kondisi demikian, kebijakan fiskal dan moneter menjadi senjata utama pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan fiskal berkaitan dengan pengeluaran pemerintah, pajak, dan pembiayaan anggaran.
Dalam wawancara yang dikutip dari laman The Diplomat, Ekonom senior Chatib Basri, menegaskan bahwa pemerintah perlu mengambil kebijakan fiskal yang tegas untuk menjaga defisit anggaran tetap terkendali.
Namun, menurut Basri, kebijakan fiskal yang tegas bukan berarti bertindak otoriter, melainkan disiplin dan konsisten dalam implementasinya. Secara tidak langsung Chatib menekankan bahwa pemerintah harus menyeimbangkan antara pengeluaran yang produktif dengan pendapatan pajak yang maksimal tanpa membebani masyarakat terlalu berat.
Haruskah Bertangan Besi?
Ada pendapat bahwa Prabowo mungkin perlu mengambil pendekatan "bertangan besi" dalam kebijakan fiskal dan moneter untuk memastikan stabilitas ekonomi jangka panjang. Beberapa ahli berpendapat bahwa kondisi ekonomi yang sedang rapuh memerlukan kepemimpinan yang tegas, terutama dalam hal pengendalian inflasi dan defisit anggaran.
Ekonom Senior, Almarhum Faisal Basri pernah berkata bahwa kebijakan moneter yang terlalu longgar berisiko memperburuk inflasi. "Jika Prabowo ingin menjaga stabilitas ekonomi, Bank Indonesia harus bertindak lebih tegas dalam menaikkan suku bunga jika inflasi kembali meningkat," katanya.
Faisal menambahkan bahwa kebijakan moneter yang proaktif dan agresif, seperti kenaikan suku bunga, mungkin diperlukan jika harga komoditas global melonjak dan inflasi domestik tak terkendali.
Meskipun begitu, Faisal mengkhawatirkan apabila Prabowo masih saja melanjutkan program Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menurutnya, banyak melenceng. Jika hal tersebut berlanjut, Faisal memprediksi akan ada kekacauan di Indonesia pada 2026 mendatang.
“Jika Prabowo melanjutkan program Jokowi yang banyak melencengnya dan tidak menunjukkan prioritas permasalahan yang dihadapi bangsa ini, maksimal 2026 akan terjadi malapetaka buat kita,” tutur Faisal melalui lansiran Infobank, (26/7/2024).
Dimana hal ini disebabkan, karena daya dukung konsumsi sosial masyarakat Indonesia diproyeksi hanya mencapai 2026. Faisal sendiri berharap kalau kekacauan ini tidak sampai terjadi.
Tetapi, Faisal mengemukakan, hal berbeda jika Prabowo memperbaiki “masalah” yang disebabkan Jokowi. Menurut Faisal, andai Prabowo memanggil orang-orang kompeten dan berintegritas, mengevaluasi program-program yang kurang tepat arahnya, dan membuat kebijakan yang “menggigit”, bisa saja akan ada perubahan nyata untuk Indonesia.
“Optimisme menyembur, membuka era baru atau renaissance. Ini bisa terjadi di era Prabowo,” tambahnya.
Oleh karena itu, lanjutnya, apabila ingin ada perubahan nyata Prabowo perlu memperkuat tata kelola pemerintahan dan meningkatkan integritas dari orang-orang di dalamnya. Jika tidak ada perubahan, maka target ambisi yang ingin dicapai dalam masa kepemimpinan baru nanti tentu akan sulit terwujud.
Di sisi lain, Paradigma 'tangan besi' memang diperlukan demi memajukan sektor perekonomian Indonesia, namun dengan syarat tidak otoriter. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal.
Menurut Faisal, ketika berbicara mengenai 'tangan besi' dalam memimpin sektor ekonomi, interpretasinya bisa beragam, istilah tersebut meskipun menyiratkan ketegasan, juga mengandung risiko salah tafsir sebagai otoriter, yang justru bisa berbahaya jika diterapkan tanpa batasan yang jelas.
"Seorang presiden, khususnya di sektor ekonomi, harus mampu membedakan antara ketegasan yang diperlukan dan kekakuan otoriter yang justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Sebab kepemimpinan yang kuat di sektor ekonomi memang memerlukan ketegasan. Namun, seberapa jauh ketegasan itu diterapkan, dan bagaimana fleksibilitas tetap diberikan, perlu didefinisikan secara lebih hati-hati," paparnya ketika dihubungi Akurat.co, Jumat (11/10/2024).
Enforcement atau penegakan kebijakan, lanjutnya, jelas sangat penting dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil. Namun, menjadi otoriter terutama jika seorang pemimpin kurang memahami detail ekonomi dapat menimbulkan risiko.
Kemudian, tambahnya, satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa ketegasan dalam hal eksekusi kebijakan memang diperlukan setelah semua masukan dipertimbangkan dengan baik.
Presiden harus mampu menjadi pemimpin yang mensinergikan antar kementerian dan kebijakan. Walaupun Menko (Menteri Koordinator) bertanggung jawab dalam banyak hal, presiden tetap memegang peranan penting dalam memastikan setiap kebijakan bergerak ke arah yang sama dan saling mendukung.
"Dengan begitu, ketegasan presiden tidak diartikan sebagai otoritarianisme, melainkan kemampuan untuk mengkoordinasikan seluruh tim ekonomi dengan efektif," tegasnya.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar menekankan pentingnya fleksibilitas dalam kebijakan moneter di tengah dinamika global.
Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Susiwijono Moegiarso, Deputi Bidang Ekonomi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Di mana menurutnya dalam konteks fiskal, pengeluaran pemerintah harus diarahkan secara bijaksana untuk menjaga produktivitas ekonomi.
Para ekonom dan akademisi tak sedikit menekankan bahwa meski ketegasan penting, fleksibilitas dalam merespons perubahan kondisi ekonomi global tetap menjadi kunci keberhasilan kebijakan ekonomi. Disisi lain juga perlunya menjaga daya tarik investasi dan produktivitas ekonomi melalui kebijakan yang terukur.
Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan Prabowo di sektor fiskal dan moneter tidak hanya tergantung pada ketegasan, tetapi juga pada kemampuannya untuk beradaptasi dan mengambil keputusan yang bijaksana sesuai dengan dinamika ekonomi yang selalu berubah
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










