Volkswagen Minta Uni Eropa Pertimbangkan Tarif EV China
Yosi Winosa | 7 Oktober 2024, 17:26 WIB

AKURAT.CO CEO Volkswagen, Oliver Blume, mengungkapkan bahwa Uni Eropa (UE) perlu mempertimbangkan penyesuaian rencana tarif terhadap kendaraan listrik (EV) buatan China, dengan memberikan pengakuan atas investasi yang dilakukan di Eropa.
Dalam wawancaranya dengan surat kabar Bild am Sonntag, Blume menyampaikan bahwa tarif seharusnya tidak bersifat "hukuman," melainkan memberikan manfaat bagi pihak yang telah berinvestasi di Eropa dan menciptakan lapangan kerja. Oleh karena itu Blume menekankan bahwa daripada menerapkan tarif hukuman, pendekatan yang lebih adil adalah memberikan kredit atau insentif bagi perusahaan yang berinvestasi di Eropa, menciptakan lapangan kerja, dan bermitra dengan perusahaan lokal.
"Mereka yang berinvestasi, menciptakan lapangan kerja, dan bekerja sama dengan perusahaan lokal seharusnya mendapat manfaat dalam hal tarif," ujar Blume, dikutip Senin (7/10/2024).
Baca Juga: Ekonomi Melambat, China Didorong Genjot Belanja Publik
Seperti yang diketahui sebelumnya, Uni Eropa berencana untuk tetap melanjutkan penerapan tarif terhadap kendaraan listrik buatan China meskipun ada penolakan dari Jerman, ekonomi terbesar di kawasan itu, dan para pembuat mobil Jerman, termasuk Volkswagen.
Seperti yang diketahui sebelumnya, Uni Eropa berencana untuk tetap melanjutkan penerapan tarif terhadap kendaraan listrik buatan China meskipun ada penolakan dari Jerman, ekonomi terbesar di kawasan itu, dan para pembuat mobil Jerman, termasuk Volkswagen.
Keputusan ini mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat antara Uni Eropa dan China dalam sengketa perdagangan terbesar mereka dalam satu dekade terakhir.
Tarif yang diusulkan oleh Uni Eropa, yang bisa mencapai hingga 45%, akan berdampak besar pada produsen mobil. Kebijakan ini dapat menambah miliaran dolar biaya tambahan bagi para produsen untuk mengimpor kendaraan listrik buatan China ke dalam blok tersebut. Tarif tersebut dijadwalkan mulai diberlakukan bulan depan dan akan berlaku selama lima tahun.
Komisi Eropa, sebagai pengawas kebijakan perdagangan Uni Eropa, menyatakan bahwa tarif ini dirancang untuk mengatasi subsidi tidak adil yang diberikan oleh pemerintah China kepada industri otomotifnya.
Tarif yang diusulkan oleh Uni Eropa, yang bisa mencapai hingga 45%, akan berdampak besar pada produsen mobil. Kebijakan ini dapat menambah miliaran dolar biaya tambahan bagi para produsen untuk mengimpor kendaraan listrik buatan China ke dalam blok tersebut. Tarif tersebut dijadwalkan mulai diberlakukan bulan depan dan akan berlaku selama lima tahun.
Komisi Eropa, sebagai pengawas kebijakan perdagangan Uni Eropa, menyatakan bahwa tarif ini dirancang untuk mengatasi subsidi tidak adil yang diberikan oleh pemerintah China kepada industri otomotifnya.
Hal ini muncul setelah penyelidikan selama satu tahun terkait kebijakan subsidi yang diduga merugikan industri otomotif Eropa. Namun, Komisi Eropa juga menekankan bahwa dialog dengan pemerintah China akan tetap berlanjut untuk mencari solusi yang lebih baik.
Blume memperingatkan bahwa ada risiko balasan dari pihak China jika Uni Eropa memberlakukan tarif ini. Tarif balasan dari China dapat merugikan produsen mobil Eropa yang juga mengandalkan pasar China untuk pertumbuhan dan penjualan.
Industri otomotif Eropa, khususnya Jerman, memiliki ketergantungan yang signifikan pada pasar China, baik untuk penjualan maupun produksi. Kekhawatiran terkait tarif ini menjadi perdebatan besar di Eropa, terutama di Jerman yang merupakan pusat industri otomotif. Para pembuat mobil Jerman, seperti Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz, telah menyuarakan kekhawatiran mereka bahwa tarif tinggi ini akan merusak hubungan perdagangan dengan China, salah satu pasar otomotif terbesar di dunia.
Selain itu, tarif ini dapat menambah biaya operasional bagi produsen mobil yang ingin menjual kendaraan listrik di Eropa, sehingga berpotensi menaikkan harga bagi konsumen. Blume juga menyatakan keprihatinannya terhadap potensi kerugian yang akan dialami produsen mobil Eropa jika China memberlakukan tarif balasan.
"Ada risiko bahwa tarif balasan dari China akan melukai produsen mobil Eropa," kata Blume dalam wawancara dengan Bild am Sonntag.
Ia juga menekankan bahwa perlunya pendekatan yang lebih kolaboratif antara kedua belah pihak agar kebijakan tarif ini tidak berdampak buruk pada industri. Keputusan Uni Eropa untuk memberlakukan tarif terhadap kendaraan listrik buatan China bukan hanya persoalan kebijakan perdagangan, tetapi juga bisa memicu dampak yang lebih luas pada industri otomotif Eropa.
Para produsen mobil Eropa telah memperingatkan bahwa langkah ini dapat mengganggu rantai pasok global dan memperburuk persaingan dengan produsen China yang telah menguasai pasar kendaraan listrik dengan harga yang lebih kompetitif. Kendaraan listrik buatan China, yang telah mendapatkan dukungan besar dari subsidi pemerintah, telah menjadi ancaman serius bagi produsen mobil Eropa yang sedang berusaha memperluas pangsa pasar mereka di segmen kendaraan ramah lingkungan.
Produsen China seperti BYD dan Nio, misalnya, semakin agresif dalam memasuki pasar global, termasuk Eropa, dengan menawarkan kendaraan listrik berkualitas tinggi namun dengan harga yang lebih terjangkau. Menerapkan tarif hingga 45% pada kendaraan listrik buatan China tentu saja bertujuan untuk melindungi produsen lokal Eropa dari persaingan yang dianggap tidak adil. Namun, hal ini juga dapat menimbulkan gesekan lebih lanjut dengan China, yang dapat merugikan produsen mobil Eropa yang sangat bergantung pada pasar tersebut.
Meskipun Komisi Eropa telah memutuskan untuk melanjutkan rencana penerapan tarif, upaya untuk menjaga dialog terbuka dengan pemerintah China tetap berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa Uni Eropa memahami risiko ekonomi dari eskalasi konflik perdagangan dengan salah satu mitra dagang terbesarnya.
Meskipun Komisi Eropa telah memutuskan untuk melanjutkan rencana penerapan tarif, upaya untuk menjaga dialog terbuka dengan pemerintah China tetap berlanjut. Hal ini menunjukkan bahwa Uni Eropa memahami risiko ekonomi dari eskalasi konflik perdagangan dengan salah satu mitra dagang terbesarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










