Akurat

The Fed Akhirnya Pangkas Suku Bunga, 50 Basis Poin

Demi Ermansyah | 19 September 2024, 13:23 WIB
The Fed Akhirnya Pangkas Suku Bunga, 50 Basis Poin

AKURAT.CO Gubernur Federal Reserve AS, Jerome Powell, memimpin para pejabat bank sentral untuk melakukan pemotongan suku bunga yang signifikan guna menjaga kestabilan ekonomi di tengah meningkatnya risiko terhadap pasar tenaga kerja. Langkah ini menandakan perubahan fokus dari upaya tunggal mereka untuk mengendalikan inflasi.

Gubernur The Fed sepakat untuk memangkas suku bunga yang saat ini sekitar 4,75%-5%, dipangkas sebesar 0,5% pada akhir 2024, dipangkas lagi 1% di 2025 dan dipangkas lagi 0,5% di 2026 ke level 2,75%-3%. Pemangkasan ini merupakan pelonggaran moneter pertama sejak pandemi Covid-19.

Powell menyatakan bahwa memulai pemotongan suku bunga secara agresif saat ekonomi AS masih kuat dapat membantu mengurangi risiko penurunan ekonomi yang lebih tajam. Meski begitu, ia menekankan bahwa The Fed tidak akan mempertahankan laju pemotongan yang sama di masa mendatang, dan langkah-langkah selanjutnya akan bergantung pada kondisi ekonomi dalam beberapa bulan ke depan.
 
 
Diansir Bloomberg, pemotongan suku bunga sebesar setengah poin, yang lebih besar dari perkiraan, merupakan bagian dari upaya Powell untuk mencapai "soft landing" yang telah lama diusahakan.
 
"Pasar tenaga kerja masih cukup kuat, dan tujuan kami dengan kebijakan ini adalah mempertahankan kondisinya. Dari sudut pandang ekonomi dan manajemen risiko, keputusan ini sangat masuk akal," kata Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan kebijakan dua hari. 
 
Powell juga menolak anggapan bahwa pemotongan suku bunga ini dilakukan untuk mengejar ketertinggalan, setelah The Fed mendapat kritik karena lambat menaikkan suku bunga pada 2022. "Kami tidak merasa tertinggal. Pemotongan ini menunjukkan komitmen kami untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan ekonomi," katanya.
 
Keputusan ini mendapat perdebatan internal, dengan salah satu gubernur The Fed, Michelle Bowman, lebih memilih pemotongan yang lebih kecil sebesar seperempat poin. Ini merupakan perbedaan pendapat pertama di antara gubernur The Fed sejak 2005.
 
Proyeksi terbaru menunjukkan mayoritas tipis mendukung pemotongan tambahan sebesar 50 basis poin dalam dua pertemuan tersisa tahun ini. Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai seberapa banyak pemotongan diperlukan sebelum inflasi mencapai target 2%. Tujuh dari 19 pejabat mendukung pemotongan tambahan sebesar 25 basis poin, sementara dua lainnya menolak pemotongan lebih lanjut tahun ini.
 
Investor memperkirakan pemotongan yang lebih agresif, sekitar 70 basis poin, pada pertemuan The Fed di bulan November dan Desember, menunjukkan adanya perbedaan pandangan dengan para pembuat kebijakan.
 
"Jangan anggap pemotongan ini sebagai kecepatan baru. Perkembangan ekonomi bisa membuat kita bergerak lebih cepat atau lebih lambat," kata Powell.
 
Langkah awal dengan pemotongan besar menunjukkan kesiapan The Fed untuk bertindak lebih kuat jika pasar tenaga kerja melemah, menurut Julia Coronado, pendiri MacroPolicy Perspectives. "The Fed kini memiliki kredibilitas. Jika pasar tenaga kerja terus melemah, mereka akan bertindak cepat," katanya.
 
Data sejak pertemuan terakhir The Fed pada bulan Juli, termasuk laporan pekerjaan yang lebih lemah, menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja tidak lagi sekuat saat pandemi. Tingkat pengangguran saat ini 4,2%, naik dari 3,4% tahun lalu.
 
Selama tiga bulan terakhir, laju penambahan lapangan kerja oleh perusahaan menurun, dan rasio lowongan pekerjaan terhadap pengangguran, yang dulu dua banding satu pada 2022, kini mendekati satu banding satu. Di sisi lain, inflasi terus menurun menuju target The Fed, dengan inflasi di angka 2,5%, mendekati sasaran 2%.
 
Powell mengatakan bahwa jika The Fed menerima laporan pekerjaan yang lemah sebelum pertemuan Juli, mereka mungkin sudah memulai pemotongan suku bunga lebih awal. Namun, data lain menunjukkan kekuatan ekonomi, seperti rendahnya klaim tunjangan pengangguran dan laporan penjualan ritel yang menunjukkan konsumen AS masih kuat.
 
Menurut William English, profesor di Sekolah Manajemen Yale dan mantan direktur di Dewan Gubernur The Fed, pemotongan suku bunga ini mencerminkan upaya The Fed untuk menyeimbangkan risiko di titik krusial ekonomi. "Titik balik seperti ini sulit diukur. Datanya kompleks, dan penilaiannya tidak selalu jelas," ujarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.