Akurat

Harga Beras di Asia Melandai

Demi Ermansyah | 7 September 2024, 17:38 WIB
Harga Beras di Asia Melandai

AKURAT.CO Harga ekspor beras India mencapai level terendah dalam tiga bulan pekan ini karena lemahnya permintaan ekspor. Sementara harga beras Thailand naik untuk minggu kedua berturut-turut ke level tertinggi sejak akhir Juni, didukung oleh penguatan mata uang baht.

Harga beras parboiled India dengan kerusakan 5% tercatat sebesar USD535-USD540 per ton minggu ini, level terlemah sejak 16 Mei, turun dari USD540-USD545 minggu lalu.

"Dalam beberapa minggu terakhir, harga di negara pesaing telah menurun. Eksportir India terpaksa menurunkan harga untuk tetap kompetitif, namun permintaan tetap lemah," kata seorang pedagang di Mumbai dari perusahaan perdagangan global.

Baca Juga: Cadangan Beras (CBP) Pemerintah Tinggal 1,5 Juta Ton, Bulog: Insya Allah Aman

Otoritas India perlu segera menurunkan atau menghapus harga dasar ekspor beras basmati untuk membantu petani meningkatkan penjualan ke luar negeri dan menghindari kelebihan pasokan yang akan menggerus pendapatan petani lebih jauh, kata para penggilingan.

Harga beras dengan kerusakan 5% Thailand tercatat sebesar USD585 per ton, naik sedikit dari USD580 per ton minggu lalu. "Harga naik ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan karena baht menguat terhadap dolar," kata seorang pedagang yang berbasis di Bangkok.

Pasar Afrika cenderung tenang, tambahnya, dan dia memperkirakan pasokan pada November akan baik karena tingkat air yang cukup. Sementara itu, harga beras domestik di Bangladesh naik minggu ini, dengan pedagang menuduh beberapa pelaku pasar memanfaatkan situasi banjir untuk membenarkan kenaikan harga, meskipun stok mencukupi dan rantai pasokan tetap normal.

Harga beras Vietnam dengan kerusakan 5% ditawarkan pada USD575 per ton pada Kamis (5/9), dibandingkan dengan USD578 minggu lalu, menurut Asosiasi Pangan Vietnam. "Harga cukup stabil. Pedagang masih menunggu hasil penawaran dari Bulog," kata seorang pedagang yang berbasis di provinsi An Giang, Delta Mekong.

Pedagang lain di Kota Ho Chi Minh mengatakan, aktivitas perdagangan tetap lesu setelah liburan.

Indonesia Bagaimana? Direktur Utama Perum Bulog, Bayu Krisnamurthi memastikan stok cadangan beras aman sampai akhir 2024. Di mana hal tersebut disampaikan pada saat Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta. Dirinya menjelaskan bahwa pihaknya sampai saat ini masih menyimpan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 1,5 juta ton di gudang.

Tak hanya itu, Bayu menegaskan kalau Bulog akan terus melakukan segala upaya untuk tetap menjaga kestabilan harga beras di pasaran melalui pemantauan dan operasi pasar jika dibutuhkan. "Stok beras pemerintah, Insya Allah, aman. Stok kita sampai akhir tahun diperkirakan masih ada 1,5 juta ton, masih tersimpan di gudang, jadi cukup sampai akhir tahun," ungkapnya dikutip Jumat (6/9/2024).

Lebih lanjut dirinya juga menambahkan bahwa Bulog akan tetap melanjutkan rencana impor beras sebanyak 1,2 juta ton yang dijadwalkan tiba sebelum Desember 2024. Tentunya langkah tersebut harus diambil untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya produksi beras di dalam negeri, sekaligus memastikan stok cadangan dan harga tetap stabil.

"Impor di tahun 2023 mencapai 3 juta ton, dan di tahun 2024 ini sudah mencapai 2,7 juta ton. Jadi, dalam dua tahun terakhir pemerintah sudah mengimpor total 5,7 juta ton beras," jelasnya.

Dengan jumlah impor yang signifikan, Bayu berharap situasi pangan khususnya beras di Indonesia akan tetap terkendali, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir soal ketersediaan beras hingga akhir tahun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.