Belanja Pemerintah di Kuartal II-2024 Melambat, BKF: Basisnya Berbeda

AKURAT.CO Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan bahwa belanja pemerintah di kuartal II-2024 tak setinggi kuartal sebelumnya lantaran perbedaan basis. Hal itu disampaikan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Febrio Kacaribu.
Febrio mencatat bahwa belanja pemerintah di kuartal pertama 2024 terlihat sangat tinggi dibandingkan dengan tahun lalu karena memang tahun sebelumnya belanja pemerintah sudah rendah. "Kenapa? Karena memang basisnya berbeda, waktu kuartal I-2023 belanja pemerintah relatif rendah dibandingkan kuartal I-2024," katanya di kantor Kemenkeu, Jakarta pada Selasa (6/8/2024).
Ditambahkan, belanja pemerintah untuk gaji ke-13 dan THR pada 2024 jatuh di kuartal I, berbeda dengan tahun sebelumnya. "Tahun ini jatuhnya di sekitar kuartal I. Jadi itu yang membedakan kenapa gain-nya terlihat untuk yang kuartal II itu lebih kecil," imbuhnya.
Baca Juga: Belanja Pemerintah Melambat di Kuartal ll-2024, Airlangga: Kita Mendorong Kegiatan Lain
Selain itu, Febrio menegaskan bahwa pemerintah tidak perlu menambah belanja secara signifikan. Menurutnya, tahun ini belanja sesuai dengan laporan semester (lapsem) outlook sekitar Rp87 triliun di atas APBN.
Dalam hal kurs, ia menyebutkan perbedaan dengan APBN yang mencerminkan perubahan belanja subsidi. "Kursusnya dibandingkan dengan APBN yang Rp15.000 outlook kita di Rp16.000 untuk tahun 2024. Sehingga perbedaan Rp1.000 dalam kurs itu saja itu sudah mencerminkan perubahan belanja khususnya dari subsidi dan kompensasi yang akan meningkat sekitar Rp60-70 triliun," jelasnya.
Di lain sisi, ia juga menyebutkan bahwa kebijakan insentif untuk ASN dan UMKM masih dalam pembahasan. Ia mengingatkan bahwa dukungan terhadap UMKM akan tetap kuat, dengan fokus pada penyaluran KUR dan subsidi.
"Saya belum tahu, nanti kita cek. Untuk barang-barang cukai makanan secepat saji, belum ada pembahasan," ungkapnya.
Menurutnya, pemerintah akan terus memantau dampak perubahan suku bunga global terhadap perekonomian Indonesia. "Sejauh ini, kita melihat bahwa dinamika global tersebut harus dikelola dengan baik agar tidak berdampak negatif bagi kita," ujar Febrio.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








