Akurat

ULN April 2024 Turun ke USD398,3 M

Silvia Nur Fajri | 14 Juni 2024, 15:15 WIB
ULN April 2024 Turun ke USD398,3 M

AKURAT.CO Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia menunjukkan tren penurunan pada April 2024, mencapai USD398,3 miliar, turun dari USD404,8 miliar pada Maret 2024. Penurunan ini mencerminkan kontraksi tahunan sebesar 1,5% (yoy), setelah sebelumnya mencatat pertumbuhan 0,2% (yoy) pada Maret 2024. Penurunan ini terjadi di sektor publik maupun swasta.

Menurut Asisten Gubernur Bank Indonesia, Erwin Haryono, ULN pemerintah terus mengalami penurunan, dengan posisi pada April 2024 sebesar USD189,1 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar USD192,2 miliar.

"Secara tahunan, ULN pemerintah mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,6 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi 0,9 persen (yoy) pada bulan sebelumnya," ungkap Erwin dalam keterangan resmi, Jumat (14/6/2024).

Baca Juga: ULN Februari 2024 Naik Tipis ke USD407,3 M

Penurunan ini dipengaruhi oleh penyesuaian penempatan dana investor nonresiden pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik ke instrumen investasi lain, seiring dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Pemerintah tetap berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang tepat waktu, serta mengelola ULN secara fleksibel dan oportunistik untuk mendapatkan pembiayaan yang efisien dan optimal.

"Pemanfaatan ULN diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor prioritas, termasuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib, Jasa Pendidikan, Konstruksi, serta Jasa Keuangan dan Asuransi,” tambahnya.

Posisi ULN pemerintah relatif aman dan terkendali, mengingat hampir seluruh ULN memiliki tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98% dari total ULN pemerintah.

Di sektor swasta, ULN juga mengalami penurunan, dengan posisi pada April 2024 sebesar USD195,2 miliar, turun dari USD198 miliar pada Maret 2024. Secara tahunan, ULN swasta mencatat kontraksi pertumbuhan dari 1,3% (yoy) menjadi 2,9% (yoy) pada April 2024. "Kontraksi ini terjadi baik pada perusahaan lembaga keuangan maupun non-lembaga keuangan," kata Erwin.

Sektor ekonomi terbesar yang menyumbang ULN swasta mencakup Industri Pengolahan; Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas, dan Udara Dingin; Jasa Keuangan dan Asuransi; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 78,3% dari total ULN swasta. ULN swasta juga didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa 76,5%.

Secara keseluruhan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. "Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun menjadi 29,1 persen pada April 2024 dari 29,3 persen pada Maret 2024, dengan dominasi ULN jangka panjang mencapai 87,1% dari total ULN," jelas Erwin.

Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN untuk menjaga stabilitas perekonomian. "Peran ULN akan terus dioptimalkan untuk mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.